A. PENGKAJIAN LUKA DIABETIK
1. Lokasi dan Letak Luka
Dapat dijadikan sebagai indikator terhadap kemungkinan
penyebab terjadinya luka, sehingga kejadian luka dpt
diminimalkan. Misalnya : Klien dengan letak luka di ibu
jari kaki akibat penekananan karena penggunaan sepatu
yang sempit .
2 . Stadium Luka
Stadium luka dibedakan atas :
a. Anatomi kulit :
b. Warna dasar Luka
c. Stadium Wagner untuk Luka Kaki Diabetik
1. Superficial Ulcers
2. Deep Ulcers
3. Gangrene
3. Bentuk dan Ukuran Luka
a. Pengukuran Tiga dimensi
Pengukuran tiga dimensi dilakukan dengan mengkaji
panjang-lebar-kedalaman dan dengan menggunakan
lidi watten steril untuk menilai ada tidaknya goa
(sinus tracks/undermining) dengan mengukur
berputar searah jarum jam.
b. Photograp
Serial photograp dapat memberikan gambaran proses
penyembuhan luka secara komprehensif. (Berikan
informed consent sebelum mengambil gambar)
4. Status Vaskuler
Menilai status vaskuler berhubungan dengan pengangktn
penyebaran oksigen yang adekwat ke seluruh lap sel dan
merupakan unsur penting dalam penyembuhan luka.
a. Palpasi
Palpasi pada daerah tibial dan dorsal pedis untuk
menilai ada tidaknya denyut nadi, klien lanjut usia
kadang sulit diraba denyut nadinya dan dapat
menggunakan alat stetoskop ultrasonik dopler.
Tingkatan denyut nadi :
b. Capillary Refill
Waktu pengisian kapiler dievaluasi dengan memberi
tekanan pada ujung jari, setelah tampak kemerahan
segera lepaskan tekanan dan lihat apakah ujung jari
segera kembali ke kulit normal. Pada beberapa kondisi
menurun atau hilangnya denyut nadi,pucat,kulit dingin
kulit jari yang tipis dan rambut yg tdk tumbuh mrpkan
indikasi askemia (arterial insufficiency) dengan
capillary refill lebih dr 40 detik.
Capillary Refill Time (CRT) :
c. Edema
Dilakukan dengan mengukur lingkar pada midle ankle
dan dorsum kaki kmd dilanjujkan dengan menekankn
jari pada tulang yang menonjol di tibia atau medial
malleolus. Kulit yang edema akan tampak lebih coklat
kemerahan mengkilat.
Tingkatan Edema :
d. Temperatur Kulit
Memberikan informasi ttg kondisi perfusi jaringan
dan fase inflamasi. Caranya dengan menempelkan
punggung tangan pd kulit sekitar luka dan memban-
dingkannya dengan kulit pada bagian lain yang sehat.
5. Status Neurologik
a. Fungsi motorik (kelemahan otot)
b. Fungsi Sensorik
Kehilangan sensasi pada ekstremitas/trauma tidak
Terasa.
c. Fungsi Autonomik
6. Infeksi
Pseudomonas aeruginase dan staphylococcus aureus
merupakan anorganisme patogenik yang paling sering
muncul saat perawatan luka. Penilaian terhadap ada tdk
nya infeksi pada luka didasari pada pengertian bahwa
seluruh jenis luka kronik adalah jenis luka yang terkonta
minasi oleh bakteri tapi tidak semuanya terinfeksi. Pada
keadaan luka terinfeksi akan memperlihatkan adanya :
a. Sistemik tubuh : bertambahnya jumlah lekosit
melebihi batas normal yang diikuti dengan peningktn
suhu tubuh.
b. Lokal infeksi : jmlh eksudat bertambah banyak, bau
tidak sedap, penurunan vaskularisasi (jar nekrosis,
slough), eritema/kemerahan pada kulit sekitar luka,
panas, nyeri. Infeksi meluas dg cepat hinbgga ke tlg.
Pemeriksaan pus kultur untuk menentukan pemberi
an antibiotik.
Cara Pengambilan Pus Kultur :
1. Cuci luka dengan cairan non toksik (NaCl 0,9%)
2. Diamkan luka bbrp saat hingga cairan luka
(eksudat keluar )
3. Lakukan teknik sampling dg pengambilan zigzag
( dengan kurang lebih 10 kali swab)
B. PERAWATAN LUKA
Tujuan :
Perawatan Luka Diabetik
1) Mencuci luka, untuk meningkatkan, memperbaiki dan
mempercepat proses penyembuhan luka serta kemung
kinan terjadinya infeksi.
Proses pencucian bertujuan untuk : membuang jaringan
Nekrotik, cairan luka yg berlebihan,sisa metabolik tubuh
sisa balutan yang digunakan. Cairan yang terbaik yang
non toksik dalam penyembuhan luka (NaCl 0,9%).
2) Debridemen
Dengan membuang jaringan nekrosis/slough pada luka. Secara alami dalam keadaan lembab tubuh akan membuang sendiri jaringan nekrosis/slough yang menempel pada luka (peristiwa autolysis)
3) Perawatan kulit disekitar luka
Penggunaan Zinc-oxide salep cukup efektif dipakai untuk melindungi kulit disekitar luka dari cairan/eksudat yang keluar berlebihan.
4) Pemilihan jenis balutan
Tujuan :
Jenis Balutan/topikal therapy (occlusive dressing)
Untuk jenis balutan ini tergantung dari bagian masing masing sesuai dengan hasil penelitiannya
C. EVALUASI PERAWATAN LUKA
Jika 4 – 6 minggu perawatan tidak menunjukkan adanya
progresifitas penyembuhan, maka yang harus dilakukan
adalah :
D. EDUKASI
Edukasi diberikan kepada klien dan keluarganya.
Hal yang perlu disadari sebelum membuat perencanaan
pendidikan kesehatan :
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.