Masyarakat Diminta Waspadai Virus Hepatitis A

Masyarakat diimbau untuk mewaspadai penyebaran virus Hepatitis A, karena dalam penyelidikan di lapangan yang dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), hingga pekan kedua Juli ada sekitar 64 penderita penyakit yang menyerang organ hati ini.

“Hepatitis A merupakan penyakit peradangan hati yang paling ringan dibandingkan dengan Hepatitis B maupun Hepatitis C. Tetapi penyakit Hepatitis A selalu muncul setiap tahun apabila terdapat lingkungan di sekitar kita yang tercemar virus itu,” kata Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Sleman, dr Mafilindati Nuraini, MKes, Jumat (18/7).

Ia mengatakan, tidak seperti Hepatitis B dan C yang ditularkan melalui darah dan cairan tubuh, Hepatitis A dapat menyebar apabila ada orang yang terinveksi virus ini.

“Sampai minggu kedua Juli dilaporkan ada 64 penderita, tetapi dari konfirmasi di lapangan ternyata tidak semua penderita berdomisili di wilayah Kabupaten Sleman,” katanya.

Sebab, kata dia, sesuai penelusuran kasus atau Penyelidikan Epidemiologi (PE) untuk mencari sumber penularan, tidak semua penderita berdomisili di wilayah Sleman.

Menurut dia, Hepatitis A ditularkan dari orang ke orang melalui air, minuman, makanan atau lainnya yang terkontaminasi tinja atau air seni seseorang yang terinfeksi virus Hepatitis A yang masuk ke dalam mulut (fecal-oral).

“Penularan virus ini dapat terjadi melalui peralatan makan atau minum, makanan mentah/lalapan yang dicuci dengan air yang tercemar, perpindahan virus dari anus ke mulut melalui makanan yang terkontaminasi virus Hepatitis A dari tinja maupun air seni seorang penderita Hepatitis ini,” katanya.

Hal tersebut mudah terjadi jika mereka yang telah terinveksi tidak mencuci tangan dengan sabun ketika menyiapkan makanan untuk orang lain maupun menjamah makanan, air yang terkontaminasi tinja dan air seni yang mengandung virus Hepatitis A.

“Masa penularan penyakit ini adalah saat penderita Hepatitis A mengeluarkan virus melalui tinjanya, yaitu sejak satu hingga dua minggu sebelum timbulnya gejala sampai beberapa hari setelah timbulnya gejala ikterik, dan air kencing berwarna seperti air teh,” katanya.

Dengan kondisi tersebut, berarti penderita dapat menjadi sumber penularan apabila tidak dapat menjaga kebersihan diri dengan baik seperti buang air besar di sungai, menjamah makanan atau penampungan air setelah buang air besar tanpa mencuci tangan terlebih dahulu menggunakan sabun dan tidak menjaga pola hidup bersih.

“Hepatitis A jarang menimbulkan kematian dan tidak menjadi kronik, penderita penyakit ini sebagian besar mengalami penyembuhan sendiri (self limiting disease), penyembuhan sempurna dapat dicapai dengan istirahat dan nutrisi yang baik serta mencukupi,” katanya.

Ia mengatakan, meskipun tidak menyebabkan kematian, tetapi kesakitan yang ditimbulkan tetap merugikan penderita.

“Seseorang yang pernah menderita Hepatitis A akan memiliki daya tahan tubuh terhadap virus ini selama sisa hidupnya. Virus tersebut dapat mati dengan pemanasan pada suhu 850 derajat Celcius selama satu menit atau dengan klorinasi,” katanya.

Masa inkubasi penyakit ini sampai timbulnya gejala klinis cukup lama yaitu 15-50 hari, atau rata-rata empat minggu.

Sedangkan gejala terjangkit penyakit ini menyerupai gejala Hepatitis yang disebabkan penyebab lainnya, seperti Hepatitis karena obat, bahan kimia, virus Hepatitis tipe yang lain (B,C,E).

“Gejala Hepatitis antara lain mual atau muntah, nafsu makan menurun, perut terasa tidak nyaman, demam, warna kulit dan bagian putih mata (sklera) menjadi berwarna kuning (ikterik), warna air seni kecoklatan seperti air teh, badan lemas serta mudah lelah,” katanya.

Tidak semua penderita mengalami gejala seperti itu, dan pada masa awal tertular, gejala ini tidak selalu tampak.

“Karena pola penyebaran belum diketahui pasti dan masih dilakukan studi epidemiologi, maka pencegahan (preventif) dan upaya peningkatan kesehatan (promotif) perlu dilakukan,” katanya.

Ia mengingatkan masyarakat untuk selalu membudayakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam melakukan pencegahan penularan penyakit, di antaranya dengan menjaga kebersihan diri dengan baik, mencuci tangan dengan sabun setiap akan makan atau menjamah makanan dan setelah buang air besar (BAB)/air seni, serta mencuci peralatan makan dan minum menggunakan sabun dan air bersih yang mengalir,” katanya. (kpl/rif)

Data Hepatitis C Sampai ke 10 Provinsi

Kamis, 11 September 2008 12:39

Kapanlagi.com – Pemerintah memperluas cakupan program pendataan penyakit hepatitis C ke 10 provinsi.

“Sebelumnya dilakukan di 11 provinsi, sekarang diperluas ke 10 provinsi yang lain. Dengan perluasan cakupan ini nanti datanya diharapkan bisa memberi gambaran komprehensif tentang besaran masalah hepatitis C di Indonesia,” kata kata Tjandra Yoga Adhitama, Pelaksana Tugas Direktur Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan, di Jakarta, Kamis.

Data tentang besaran masalah hepatitis C tersebut, kata dia, selanjutnya akan digunakan sebagai acuan dalam membuat kebijakan penanggulangan penyakit hepatitis C di tanah air.

Lebih lanjut Tjandra menjelaskan, pendataan tahap II akan mulai dilakukan tanggal 1 Oktober 2008 sampai 31 Maret 2009 di 10 provinsi perluasan yakni Kepulauan Riau, Riau, Jambi, Lampung, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sumatera Barat, Banten, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Nusa Tenggara Barat.

Pendataan tahap II di kesepuluh provinsi tersebut, menurut dia, didukung 43 unit pengumpul data yang terdiri atas 19 rumah sakit, 13 laboratorium, dan 11 unit transfusi darah.

Program pendataan itu, katanya, merupakan lanjutan dari program pendataan hepatitis C tahap I yang dilakukan pada 1 Oktober 2007-31 Agustus 2008 di 11 provinsi yakni DKI Jakarta, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Bali, Kalimantan Barat serta Papua.

Ia menjelaskan, pendataan tahap pertama mencakup 49 unit pengumpul data yang terdiri atas 13 rumah sakit, 24 laboratorium dan 12 unit transfusi darah.

Dengan demikian, lanjut dia, pendataan hepatitis akan mencakup 21 provinsi dengan 118 unit pengumpul data yang terdiri atas 48 rumah sakit, 44 laboratorium dan 26 unit transfusi darah.

“Hasil sementara, selama pendataan tahap pertama, sudah ada 5.870 kasus hepatitis C yang tercatat,” katanya.

Prediksi Besaran

Tjandra menjelaskan, Departemen Kesehatan bekerja sama dengan PT Roche Indonesia melakukan pendataan penyakit hepatitis C untuk mengetahui besaran masalah penyakit tersebut di Indonesia.

“Karena selama ini kita belum punya data penyakit hepatitis C, kita hanya menggunakan angka referensi dari WHO yang memperkirakan besaran penyakit hepatitis C sekitar 3% dari populasi,” katanya.

Padahal, ia menjelaskan, penyakit yang belum ada vaksin pencegahannya itu merupakan penyakit menular yang juga membutuhkan perhatian serius karena berpotensi mengakibatkan kejadian luar biasa penyakit.

Menurut Ketua Kelompok Kerja Hepatitis Departemen Kesehatan Prof. Dr. H.Ali Sulaiman, PhD. SpPD-KGEH, penyakit yang gejala klinis awalnya tidak terlihat itu menimbulkan beban ekonomi yang sangat besar jika tidak ditangani sejak dini.

Ia mencontohkan, bila penyakit yang disebabkan oleh virus itu berlanjut menjadi sirosis ringan maka dibutuhkan biaya pengobatan sekitar Rp30 juta per orang per tahun.

“Bila menjadi sirosis berat tanpa transplantasi butuh Rp60 juta/orang/tahun, kanker hati yang tidak ditransplantasi butuh Rp120 juta/orang/tahun, dan bila harus menjalani transplantasi biaya per operasi Rp1,5 miliar sampai Rp2 miliar dengan biaya perawatan sesudahnya Rp150 juta/tahun,” paparnya.

Ia menambahkan, berdasarkan estimasi WHO saat ini sekitar tujuh juta penduduk Indonesia terinfeksi virus hepatitis C namun 80% hingga 90% di antaranya tidak menyadari infeksinya.

Kondisi yang demikian dapat menimbulkan beban ekonomi yang lebih tinggi bila tidak segera ditangani. “Karena itu pendataan sangat diperlukan, supaya kita bisa mengidentifikasi dan menangani penyakit ini sejak dini,” demikian Prof.Ali Sulaiman. (*/bee)

Hepatitis Jogja Capai 478 Kasus

Kamis, 28 Agustus 2008 17:17

Kapanlagi.com – Kepala Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dr Bondan Agus Suryanto mengatakan, selama Agustus 2008 ditemukan sebanyak 478 kasus hepatitis A di daerah ini.

“Dari jumlah itu sekitar 87,47% diderita kelompok usia produktif 16-45 tahun,” katanya di Yogyakarta, Kamis.

Kasus hepatitis A tersebut baru didasarkan pada pemeriksaan laboratorium atas pasien yang dirawat di sejumlah rumah sakit dan puskesmas.

Menurut dia, penderita terbanyak berasal dari Kabupaten Sleman sekitar 73,6%, disusul Kota Yogyakarta sekitar 20%, sedangkan sisanya dari Bantul, Kulonprogo dan Gunung Kidul.

“Meski jumlah kasusnya cukup banyak namun sampai saat ini belum ada laporan kematian akibat hepatitis A,” katanya.

Ia mengharapkan masyarakat meningkatkan kebiasaan hidup bersih dan sehat agar tidak terjangkit hepatitis A.

“Selain itu juga diharapkan tidak jajan sembarangan, dan sebaiknya memilih tempat makan yang bersih dan higienis agar terhindar dari hepatitis A,” katanya. (*/bee)

Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV;[1] atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain).

Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang menurunkan kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap sembarang infeksi ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.

HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu.[2][3] Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.

Para ilmuwan umumnya berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara.[4] Kini AIDS telah menjadi wabah penyakit. AIDS diperkiraan telah menginfeksi 38,6 juta orang di seluruh dunia.[5] Pada Januari 2006, UNAIDS bekerjasama dengan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali diakui pada tanggal 5 Juni 1981. Dengan demikian, penyakit ini merupakan salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah. AIDS diklaim telah menyebabkan kematian sebanyak 2,4 hingga 3,3 juta jiwa pada tahun 2005 saja, dan lebih dari 570.000 jiwa di antaranya adalah anak-anak.[5] Sepertiga dari jumlah kematian ini terjadi di Afrika Sub-Sahara, sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menghancurkan kekuatan sumber daya manusia mereka. Perawatan antiretrovirus sesungguhnya dapat mengurangi tingkat kematian dan parahnya infeksi HIV, namun akses terhadap pengobatan tersebut tidak tersedia di semua negara.[6]

Hukuman sosial bagi penderita yang terkena HIV/AIDS, umumnya lebih berat bila dibandingkan dengan penderita penyakit mematikan lainnya. Terkadang hukuman sosial tersebut juga turut mengenai petugas kesehatan atau sukarelawan, yang terlibat dalam merawat orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA).

Pandemi dalam Sejarah

Pandemi pertama yang tercatat dalam sejarah terjadi ketika tahun 430 sebelum Masehi. Ketika perang Peloponnesia antara dua kota utama Yunani kuno, Athena dan Sparta. Strategi yang diterapkan oleh Pericles, pimpinan dan penggagas utama keagungan Athena, dengan bertahan di dalam tembok kota untuk menghadapi kepungan pasukan Sparta yang memiliki kekuatan lebih besar tampaknya membawa hasil yang memuaskan. Namun apa yang terjadi justru diluar perkiraan siapapun. Penduduk Athena justru harus menghadapi maut dikarenakan wabah penyakit yang selama empat tahun kemudian menyebabkan kematian sepertiga warga dan militernya (bbcindonesia.com-08/11/2005).

Lebih lanjut dijelaskan oleh Thucydides, ahli sejarah Yunani, dengan detail tentang gejala-gejala penyakit misterius itu. Warga yang sehat tiba-tiba diserang penyakit, yang dimulai dengan rasa panas seperti terbakar di kepala. Kemudian terjadi radang sampai merah membara di mata dan organ bagian dalam seperti tenggorokan atau lidah. Radang itu sampai berdarah dan mengeluarkan bau busuk yang tidak alami.

Tetapi itu baru permulaan saja, pasien kemudian menderita bersin dan batuk, diikuti dengan diare, muntah-muntah dan sekujur tubuh kejang.Kulit penderita menjadi pucat dan penuhi benjolan serta bisul. Tenggorokan terasa seperti terbakar dan penderita terus menerus merasa haus. Kebanyakan warga Athena yang terserang penyakit ini meninggal dunia pada hari ketujuh atau kedelapan.Tetapi ketika penyakit bergerak ke bagian pencernaan tubuh, yang ditandai dengan luka lambung dan diare yang parah ditambah dengan daya tahan tubuh yang rentan, kebanyakan orang saat itu yang mengalami ini juga meninggal.Hanya sedikit orang yang selamat, tetapi sering kali mereka pun kehilangan jari tangan, jari kaki, alat vital atau pengelihatan mereka.

Itulah gambaran tentang pandemi pertama di dunia yang tercatat dalam sejarah. Selanjutnya pandemi kembali melanda pada abad kedua Masehi di kerajaan Romawi ketika tahun 165 M pasukan Romawi pulang dari di Timur membawa penyakit yang diyakini banyak ahli sebagai penyakit cacar. Wabah ini menewaskan sekitar lima juta orang. Wabah kedua merebak antara tahun 251 dan 266 Masehi, dan pada masa terburuk wabah itu dikatakan menewaskan 5.000 warga Romawi setiap harinya.

Pandemi berikutnya adalah penyakit yang pada awalnya disebut wabah Justinian. Seperti diketahui lebih lanjut dalam sejarah, penyakit yang ternyata dibawa oleh kutu dari tikus itu sebenarnya adalah pandemi penyakit pes pertama yang menelan korban jiwa besar. Dari tahun 541 sampai 542 Masehi, wabah itu membunuh 40%penduduk Konstantinopel. Sejarawan Bizantium, Procopius mengklaim bahwa pada puncaknya wabah penyakit pes itu menelan korban jiwa 10.000 orang per hari. Penyakit ini kemudian menyebar ke seluruh kawasan timur Laut Tengah dan menewaskan seperempat penduduk kawasan tersebut.Wabah besar kedua yang terjadi pada tahun 588 Masehi menyebar lebih jauh lagi sampai ke Perancis dan menyebabkan korban jiwa akibat penyakit pes di Eropa mencapai sekitar 25 juta orang.

Sebutan yang lebih terkenal untuk penyakit pes ini adalah black death (maut hitam) dikarenakan kulit korban yang terkena penyakit ini menghitam karena pecahnya pembuluh darah di bawah kulit. Penyakit ini kembali menyerang daratan Eropa dan Mediterrania dari 1347 hingga1351. Masa itu adalah awal dari siklus berkepanjangan serangannya yang berlanjut hingga awal abad ke-18. Serangan besar terakhir yang tercatat adalah yang terjadi di Marseille pada1722 (Osheim, 2005).

Kolera adalah pandemi berikutnya yang menakutkan umat manusia. Meskipun hingga sekarang di beberapa daerah termasuk Indonesia masih dapat di temui, penyakit yang pertama kalinya disebutkan oleh seorang dokter berkebangsaan Portugis, Garcia de Orta pada abad 16 M namun penyakit ini mencapai puncaknya pada tahun 1816. kolera ini muncul juga di India dan menyebar masuk Rusia dan Eropa Timur hingga Amerika Utara.

Memasuki abad 20 pandemi yang terjadi adalah pandemi influenza. Dalam abad lalu tercatat tiga pandemi flu. Yang pertama dan terburuk adalah flu Spanyol yang terjadi pada tahun 1918 di tiga lokasi yang saling berjauhan: Brest di Perancis; Boston di Amerika Serikat; dan Freetown di Sierra Leone. Penyakit itu memiliki tingkat kematian tinggi dan yang mengherankan orang berusia 20 sampai 40 tahun yang jatuh menjadi korban dan bukan mereka yang tua renta. Penyakit flu juga mampu bergerak dengan sangat cepat dengan membunuh 25 juta orang dalam waktu enam bulan. Seperlima warga dunia terinfeksi. Sampai hari ini, asal jenis flu manusia itu belum pernah ditemukan tetapi penelitian baru yang dilakukan oleh Institut Penyakit Menular pada Angkatan Bersenjata Amerika Serikat mengisyaratkan bahwa kemungkinan besar penyakit influenza berasal dari burung.

Influenza kemudian menghilang hampir sama cepatnya, namun setelah menewaskan sekitar 40 juta orang. Jumlah ini lebih besar dari korban jiwa dalam Perang Dunia Pertama yang berakhir pada waktu yang hampir bersamaan hingga kemudian dunia kembali menemukan panyakit flu burung di Hongkong pada tahun 1997. Flu burung tidak dikenal menyerang manusia sampai ditemukan kasus di Hongkong ini menyerang 18 orang dan menewaskan enam diantaranya. Kematian diakibatkan radang paru-paru dan gangguan pernafasan, gagal ginjal dan komplikasi lainnya. Gejala timbulnya penyakit ini sama dengan influwnza biasa yaitu demam, batuk dan sebagainya. Walaupun manusia punya kekebalan terhadap virus influenza namun pada kasus flu burung inu tubuh kita belumterbiasa dengan varietas virus yang baru ini (King, 2005).

Ilmuwan mengidentifikasikan variasi jenis dari virus influenza berdasarkan dua protein kunci yang ditemukan di permukaan tubuhnya. Dua jenis tersebut adalah hemagglutin (H) dan neuraminidase (N). Terdapat 15 subtipe utama dari protein jenis H dan 9 jenis dari protein jenis N. Virus yang ditemukan di Hongkong disebut H5N1 karena protein kunci yang ditemukan di permukaan tubuhnya dalah dari subtype H5 dan N1. Beberapa unggas di Eropa dan bagian timur Amerika Serikat mengalami wabah dari jenis H7 yang dipercaya kurang berbahaya bagi manusia (King, 2005).

Bank Dunia mendesak para pembuat kebijakan di seluruh dunia agar menjadikan ancaman pandemi flu burung global prioritas utama mereka. Organisasi itu mengatakan, pihaknya sangat khawatir akan dampak ekonomi yang dapat ditimbulkan oleh pandemi global, dan menyerukan agar segala cara dilakukan guna membatasi penyebaran flu burung pada sumbernya, sehingga mengecilkan resiko pandemi di kalangan manusia.

Pernyataan tersebut dikeluarkan dalam sebuah laporan mengenai prakiraan ekonomi di Asia Timur, yang menurut Bank Dunia sudah menderita dampak ekonomi utama dari penyebaran virus H5N1 di kalangan unggas. Industri unggas paling menderita secara ekonomi sejauh ini. Pemusnahan unggas telah menyebabkan pasok ayam dan unggas lain turun 15-20% di negara yang paling parah terkena, Vietnam dan Thailand. Pengusaha ternak dan pedagang ayam menderita kerugian besar karenanya.

Dalam masalah kesehatan, kekhawatiran terbesar adalah virus ini bisa berkembang sehingga menular dari manusia ke manusia. Ini tentu saja akan menimbulkan konsekuensi serius karena akan sangat berpengaruh pada industri seperti turisme dan perhubungan. Seorang pejabat tinggi PBB memperingatkan, mungkin akan terjadi wabah baru influenza setiap saat, yang mungkin menewaskan 150 juta orang (bbcindonesia.com-30/09/2005).

Tamiflu, Roche dan TRIPs

Sementara wabah semakin menjalar, beberapa negara berkembang mengatakan mereka terpaksa keluar dari persaingan untuk membeli tamiflu, satu diantara segelintir obat yang dianggap efektif melawan virus flu burung H5N1, karena mereka tidak mampu membeli. Produsen Tamiflu, Roche, mendapat tekanan besar untuk memproduksi lebih banyak obat dan membolehkan perusahaan-perusahaan obat lainnya meniru obat itu dengan biaya lebih murah. Roche mengatakan pihaknya akan berbicara dengan pemerintah berbagai negara dan perusahaan obat lain untuk memberi mereka izin membuat Tamiflu (bbcindonesia.com-18/10/2005).

Hal seperti ini dapat terjadi diakibatkan diterapkannya perluasan perlindungan paten dalam TRIPs (Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights) untuk produk obat-obatan. Melalui mekanisme kesepakatan WTO paten ini menghambat kemungkinan produsen obat lokal untuk memproduksi obat generik dan obat penyelamat hidup (life saving drugs). Sebelum ditetapkan TRIPs, produsen lokal diperbolehkan memproduksi obat-obatan sejenis dengan proses yang berbeda karena proses pembuatannya tidak termasuk dipatenkan.

Karena itulah dilakukan tekanan terus menerus untuk merubah ketetapan ini karena nyawa manusia yang jadi taruhannya. Negara-negara Afrika dan kelompok masyarakat sipil termasuk yang paling gencar melancarkan kampanye tentang dampak TRIPs ini terhadap akses obat-obatan bagi orang miskin. Pada akhirnya negara-negara maju mengijinkan impor pararel dan lisensi wajib bagi obat-obatan.

Lisensi wajib adalah penggunaan obyek paten tanpa ijin dari pemegang haknya ketika keadaan darurat seperti ketika pandemi menyerang dan bencana alam. Impor pararel adalah pembelian langsung dari pihak ketiga di negara lain bukan dari produsen karena terkadang produsen memberlakukan harga yang berbeda untuk negara yang berbeda. Dengan kedua mekanisme yang ada ini diharapkan dapat diterima obat dengan harga yang lebih terjangkau dan dunia dapat lebih siap siaga menghadapi pandemi seperti flu burung yang saat ini masih mengancam (Jhamtani, 2005).

indrom Pernapasan Akut Berat (bahasa Inggris: Severe Acute Respiratory Syndrome/SARS) adalah sebuah jenis penyakit pneumonia. SARS pertama kali muncul pada November 2002 di Provinsi Guangdong, Tiongkok. SARS sekarang dipercayai disebabkan oleh virus SARS. Sekitar 10% dari penderita SARS meninggal dunia.

Setelah Tiongkok membungkam berita wabah SARS baik internal maupun internasional, SARS menyebar sangat cepat, mencapai negeri tetangga Hong Kong dan Vietnam pada akhir Februari 2003, kemudian ke negara lain via wisatawan internasional. Kasus terakhir dari epidemi ini terjadi pada Juni 2003. Dalam wabah itu, 8.069 kasus muncul yang menewaskan 775 orang.

Untuk melihat garis waktu wabah SARS, lihat Progres wabah SARS.

Ada spekulasi bahwa SARS adalah penyakit buatan manusia.

Hepatitis B adalah suatu penyakit hati yang disebabkan oleh “Virus Hepatitis B” (VHB), suatu anggota famili Hepadnavirus[1] yang dapat menyebabkan peradangan hati akut atau menahun yang pada sebagian kecil kasus dapat berlanjut menjadi sirosi hati atau kanker hati.[2] Mula-mula dikenal sebagai “serum hepatitis” dan telah menjadi epidemi pada sebagian Asia dan Afrika.[3] Hepatitis B telah menjadi endemik di Tiongkok dan berbagai negara Asia.[4]

Penyebab Hepatitis ternyata tak semata-mata virus. Keracunan obat, dan paparan berbagai macam zat kimia seperti karbon tetraklorida, chlorpromazine, chloroform, arsen, fosfor, dan zat-zat lain yang digunakan sebagai obat dalam industri modern, bisa juga menyebabkan Hepatitis. Zat-zat kimia ini mungkin saja tertelan, terhirup atau diserap melalui kulit penderita. Menetralkan suatu racun yang beredar di dalam darah adalah pekerjaan hati. Jika banyak sekali zat kimia beracun yang masuk ke dalam tubuh, hati bisa saja rusak sehingga tidak dapat lagi menetralkan racun-racun lain.[5]

Gugur kandungan atau aborsi (bahasa Latin: abortus) adalah berhentinya kehamilan sebelum usia kehamilan 20 minggu yang mengakibatkan kematian janin.

Apabila janin lahir selamat (hidup) sebelum 38 minggu namun setelah 20 minggu, maka istilahnya adalah kelahiran prematur.

Dalam ilmu kedokteran, istilah-istilah ini digunakan untuk membedakan aborsi:

  • Spontaneous abortion: gugur kandungan yang disebabkan oleh trauma kecelakaan atau sebab-sebab alami.
  • Induced abortion atau procured abortion: pengguguran kandungan yang disengaja. Termasuk di dalamnya adalah:
    • Therapeutic abortion: pengguguran yang dilakukan karena kehamilan tersebut mengancam kesehatan jasmani atau rohani sang ibu, terkadang dilakukan sesudah pemerkosaan.
    • Eugenic abortion: pengguguran yang dilakukan terhadap janin yang cacat.
    • Elective abortion: pengguguran yang dilakukan untuk alasan-alasan lain.

Dalam bahasa sehari-hari, istilah “keguguran” biasanya digunakan untuk spontaneous abortion, sementara “aborsi” digunakan untuk induced abortion.

Diabetes mellitus (DM) (dari kata Yunani διαβαίνειν, diabaínein, “tembus” atau “pancuran air”, dan kata Latin mellitus, “rasa manis”) yang umum dikenal sebagai kencing manis adalah penyakit yang ditandai dengan hiperglisemia (peningkatan kadar gula darah) yang terus-menerus dan bervariasi, terutama setelah makan. Sumber lain menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan diabetes mellitus adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron.[2]

Semua jenis diabetes mellitus memiliki gejala yang mirip dan komplikasi pada tingkat lanjut. Hiperglisemia sendiri dapat menyebabkan dehidrasi dan ketoasidosis. Komplikasi jangka lama termasuk penyakit kardiovaskular (risiko ganda), kegagalan kronis ginjal (penyebab utama dialisis), kerusakan retina yang dapat menyebabkan kebutaan, serta kerusakan saraf yang dapat menyebabkan impotensi dan gangren dengan risiko amputasi. Komplikasi yang lebih serius lebih umum bila kontrol kadar gula darah buruk.

Poliomielitis atau polio, adalah penyakit paralisis atau lumpuh yang disebabkan oleh virus. Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV), masuk ke tubuh melalui mulut, mengifeksi saluran usus. Virus ini dapat memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan (paralisis).

rang Romawi kuno paham benar akan pentingnya arti kesehatan fisik seperti tercermin pada peribahasanya yang sudah mendunia: Mens sana in corpore sano. Jiwa yang sehat berada di dalam badan yang bugar. Orang yang terus-menerus digerogoti penyakit sulit memiliki jiwa yang sehat. Manusia yang sudah terlalu renta tidak lagi memiliki pikiran yang waras. Mereka yang didera kelaparan kronis dan terhimpit tekanan ekonomi serius akan terserang sakit jiwa.

Dalam perkembangan zaman, berbagai fakta sejarah juga menunjukkan kenyataan sebaliknya. Bahwa bukan saja jiwa yang sehat terdapat di dalam badan yang sehat, melainkan juga tubuh yang sehat berada di dalam jiwa yang sehat. Kesehatan tubuh mereka yang jiwanya terus-menerus tertekan, dan akhirnya terkena depresi, akan sangat lemah dan mudah dihinggapi berbagai jenis penyakit.

Hubungan kesehatan jiwa dan tubuh sangat erat. Itu sebabnya, orang mempelajari psikosomatik, hubungan dan pengaruh timbal-balik antara aspek kejiwaan dan fisik. Ada banyak orang dengan penyakit fisik yang tak kunjung sembuh karena depresi. Namun, ketika ada terapi jiwa dan rohani yang tepat, mereka memperoleh kesembuhan.

Tidak salah bila dalam Indonesia Raya, lagu kebangsaan Indonesia, Wage Rudolf Soepratman menulis tegas lirik ini: Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Pembangunan Indonesia tidak boleh hanya memperhatikan aspek lahiriah semata, melainkan juga aspek mentalitas, aspek kejiwaan, dan spiritual. Tanpa jiwa yang beres, manusia menjadi individualistis, bengis, buas, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, dan menjadi serigala bagi manusia lain.

Kualitas manusia Indonesia umumnya rendah dilihat dari dua sisi itu. Rendah kualitas fisiknya, rendah pula kualitas jiwanya. Dalam persaingan dunia yang makin ketat, Indonesia acap tampil sebagai bangsa yang kalah. Di dalam negeri, 35% penduduk Indonesia hidup dalam kemiskinan absolut dengan pendapatan sehari kurang dari satu dolar AS. Tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri umumnya hanya sekadar menjadi kuli kasar.

Rendahnya kualitas kejiwaan bangsa ini bisa dilihat dari besarnya penderita sakit jiwa. Jumlah pasien gangguan jiwa beberapa tahun terakhir meningkat. Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2006 memperkirakan, sekitar 26 juta penduduk Indonesia mengalami gangguan kejiwaan, ringan hingga berat.

Setiap tahun, angka sakit jiwa cenderung meningkat, antara lain karena tekanan ekonomi. Semua rumah sakit besar melaporkan peningkatan jumlah pasien sakit jiwa.

Setelah 100 tahun kebangkitan nasional, perhatian kita terhadap kualitas badan dan jiwa manusia Indonesia harus lebih ditingkatkan. Berbagai strategi pembangunan harus diarahkan untuk mengangkat bangsa ini sejajar dengan bangsa lain. Dilihat dari pelbagai aspek, bangsa Indonesia sesungguhnya mampu menjadi bangsa unggul yang tidak kalah dari bangsa lain.

Dari aspek sumber daya alam, Indonesia bahkan memiliki keunggulan yang jauh di atas rata-rata negara di dunia. Indonesia memiliki lahan pertanian dan perkebunan nan luas, kandungan bumi yang kaya akan migas dan aneka mineral, serta perairan luas yangv kaya akan berbagai jenis biota laut. Persoalan terletak pada kemampuan para pemimpin negeri ini untuk mengkoordinasi dan mengoptimalkan berbagai potensi yang dimiliki agar bangsa ini tidak seperti tikus mati di lumbung padi.

Tragedi Malnutrisi

Penyebab utama buruknya kesehatan masyarakat adalah kemiskinan dan rendahnya pendidikan. Kemiskinan absolut dan kebodohan membuat mereka tidak memiliki pola hidup sehat. Jangankan untuk mengkonsumsi makanan dengan asupan gizi memadai. Untuk mendapatkan air bersih saja, mereka sulit. Mayoritas rakyat tidak memiliki akses untuk mendapatkan air bersih. Data Departemen Pekerjaan Umum menunjukkan, baru sekitar 10% penduduk perdesaan dan 40% warga perkotaan mendapatkan pelayanan air bersih dari PDAM (perusahaan air minum milik pemerintah daerah).

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2008 menempatkan Indonesia pada level 107 dari 177 negara. Terpaut jauh di bawah Malaysia yang berada di urutan ke-63, bahkan Filipina yang ada di urutan ke-90. Posisi Indonesia tidak jauh dari kamboja (131), negeri yang baru selesai perang saudara.

IPM memperhitungkan sejumlah aspek penting, di antaranya harapan hidup, pendidikan, dan produk domestik bruto (PDB). Harapan hidup masyarakat Indonesia sekitar 69 tahun, sedangkan Malaysia sudah mencapai 74 dan Filipina 71 tahun. Masih ada sekitar 9,6% penduduk usia di atas 15 tahun yang belum melek huruf. PDB per kapita Indonesia tahun 2007 baru US$ 1.946, sementara Malaysia sebesar US$ 6.146.

Tingkat kematian bayi Indonesia juga tergolong tinggi. Pada tahun 2006, sekitar 34 dari 1.000 bayi Indonesia meregang nyawa. Tingkat kematian bayi di Malaysia dan Filipina masing-masing 12 perseribu dan 32 perseribu penduduk. Dalam kenyataan tingkat kematian bayi jauh lebih tinggi dari angka yang dilaporkan. Bagai puncak gunung es, satu bayi yang dilaporkan, kenyataan bisa sepuluh kali lipat.

Kasus kematian bayi di bawah lima tahun (balita) di Indonesia akibat busung lapar, demikian Menkes, cukup tinggi, yakni 8% setahun. Tertinggi adalah NTT dan NTB, dua provinsi termiskin di Indonesia. Di NTB, kematian balita karena gizi buruk sekitar 10%, sedangkan di NTT jauh di atas 10%. Pada periode Juni 2005 hingga Juni 2006, balita busung lapar di NTT mencapai 39% dari total balita.

Malnutrisi mencakup asupan gizi yang kurang atau juga berlebihan untuk jangka waktu yang panjang, sehingga manusia yang terkena malnutrisi menjadi tidak sehat secara fisik. Untuk konteks Indonesia malnutrisi lebih banyak berkaitan dengan kondisi undernutrition atau gizi kurang dan itu disebabkan kondisi wilayah rawan pangan. NTT dan NTB adalah dua provinsi yang nyaris saban tahun didera rawan pangan.

Pada periode 2001-2003, demikian laporan Organisasi Pangan Dunia (FAO), penduduk defisit gizi di Indonesia sebesar 13,8 juta. Sedangkan Survei Ekonomi Nasional 2005 yang diadakan Badan Pusat Statistik menunjukkan, 28% jumlah anak Indonesia bergizi kurang memadai.

Jelaslah bahwa rendahnya kualitas kesehatan fisik mayoritas bangsa ini terkait erat dengan kemampuan mereka dalam mengkonsumsi makanan bernutrisi tinggi. Kondisi hidup yang miskin menyebabkan mayoritas rakyat lebih mementingkan kuantitas makanan, bukan kualitas.

Konsumsi beras penduduk Indonesia rata-rata 139 kg per tahun. Namun, konsumsi daging dan telur hanya 11,9 kg dan 3,8 kg per tahun. Di Malaysia, konsumsi daging dan telur per kapita sebesar 43 kg dan 11,9 kg. Sedangkan konsumsi beras 98,7 kg per tahun.

Konsumsi susu penduduk Indonesia lebih parah lagi, yakni hanya 7,3 liter per tahun per kapita. Di Malaysia, konsumsi susu mencapai 25 liter per kapita, sedangkan di Australia dan AS, konsumsi susu sebesar 226 dan 256,8 liter per kapita per tahun.

Akan tetapi, sebagian penduduk Indonesa hidup dengan overnutrition atau gizi berlebihan. Sudah kelebihan gizi, malas pula berolahraga. Data Depkes menyebutkan, pada tahun 2000, sekitar 9,7 juta penduduk Indonesia menderita obesitas dan sekitar 17,5% penduduk mengalami kelebihan berat badan dan berpotensi obesitas. Penelitian lain menunjukkan, sekitar 12,6% anak usia 6-7 tahun menderita obesitas.

Penyakit hingga kematian akibat tregedi malnutrisi perlu direspons lebih awal. Anak-anak yang kelebihan gizi akan lebih mudah ditangani karena mereka berasal dari keluarga mampu. Tapi, untuk anak-anak dengan gizi buruk, tanpa bantuan pemerintah, nasib mereka akan semakin menderita. Bahkan jika tidak diperhatikan, bangsa ini menderita lost generation.


Tanggung Jawab Negara

Sebagai welfare state, para pendiri republik memberikan prioritas tinggi terhadap peningkatan kesehatan masyarakat. Pasal 34 ayat (3) UUD dengan jelas menegaskan, negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Sedangkan pada ayat (2) pasal yang sama disebutkan, negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. Pada pasal 28H ayat (1) disebutkan, setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup baik dan sehat serta memperoleh pelayanan kesehatan.

Kenyataan sehari-hari masih jauh dari amanat UUD. Jutaan rakyat boleh dibilang mati sia-sia karena tidak memiliki akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Mereka meninggalkan karena sejumlah penyakit yang sesungguhnya bisa disembuhkan seperti busung lapar, polio, TBC, diare, jantung koroner, hepatitis B, seranan jantung, infeksi saluran pernafasan, cikungunya, dan malaria. Pada tahun 2006, sekitar 500 penduduk dari 1,3 juta kasus malaria meninggal dunia karena tidak ada perawatan.

Ada juga penyakit yang banyak diderita kaum menengah atas seperti jantung, stroke, kolesterol, darah tinggi, diabetes, demam berdarah, asam urat, dan berbagai jenis kanker. Berbagai penyakit ini meningkat cukup signifikan. Pada tahun 2003 terdapat 8,3 juta penderita diabetes di Indonesia dengan prevalensi 1,5 hingga 2,3 kali.

Di samping itu, terdapat sejumlah penyakit yang disebabkan oleh perilaku menyimpang seperti penyakit HIV/AIDS dan berbagai penyakit karena konsumsi narkoba yang meluas. Pada tahun 2007, jumlah kasus AIDS di Indonesia meningkat 2,9 juta menjadi 11,1 juta kasus kematian. Pada tahun 1987, kasus kematian karena AIDS baru lima. Dengan demikian, dalam 23 tahun terakhir terjadi peningkatan kasus AIDS yang sangat mencengangkan.

Kita menghargai berbagai upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, baik lewat anggaran, pengadaan obat-obatan, pembangunan puskesmas, pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan anak, pusat krisis terpadu, ruang pelayanan khusus, dan program keluarga berencana yang kembali digulirkan. Pada tahun 2008, belanja kesehatan nasional sekitar Rp 39,7 triliun, di antaranya 16 triliun khusus untuk fungsi kesehatan.

Tapi, kita tidak bisa menutup mata terhadap realitas yang mengiris hati. Selain begitu banyak orang yang mati sia-sia karena tragedi malnutrisi, program jaminan pemeliharaan kesehatan masih belum direalisasikan dengan serius. Kita berharap agar program ini lebih diprioritaskan agar semua penduduk miskin absolut dan hampir miskin –yang menurut data pemerintah sekitar 76,4 juta-bisa mendapatkan akses untuk mendapatkan perawatan medis dan obat-obatan. Dalam kenyataan, masih banyak penduduk miskin ditolak oleh puskesmas dan rumah sakit saat mereka memerlukan perawatan segera kendati mereka membawa kartu Askeskin.

Sistem jaminan sosial yang diamanatkan UUD perlu segera direalisasikan. Hingga saat ini, sistem jaminan sosial baru dimiliki oleh para pekerja formal lewat program jamsostek yang diselenggarkan PT Jamsostek. UU No 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang memayungi kepentingan pekerja formal, informal, dan petani, belum dijabarkan sampai hari ini.

Tidak heran jika sekitar 41 juta pekerja informal dan 27 juta keluarga petani saat ini tidak ada perlindungan asuransi sosial. Mereka akan mati sia-sia jika mengalami kecelakaan dan terserang penyakit. Sebagai negara kesejahteraan, seluruh rakyat harus mendapatkan jaminan asuransi kesehatan, apalagi UUD sudah mengamanatkannya*

Anemia, Menopause, dan Osteoporosis, Banyak Serang Wanita PrintE-mailOleh Media Indonesia On Line

PENYAKIT umumnya menyerang siapa saja tanpa pandang bulu, entah itu perempuan, laki-laki, orang dewasa maupun anak-anak. Namun, ada beberapa penyakit yang khusus diderita anak-anak, Ada penyakit yang hanya diderita kaum pria atau wanita.

Menopause, osteoporosis, anemia, osteo artritis (OA), dan beberapa penyakit lainnya umumnya banyak diderita kaum perempuan. Penyakit anemia (kekurangan zat besi), misalnya, banyak diderita kaum wanita di Indonesia mulai dari remaja putri hingga ibu-ibu. Itulah sebabnya angka kematian ibu saat melahirkan masih cukup tinggi di Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah kekurangan zat besi, dan pada akhirnya anemia. Dan, kurangnya mengonsumsi kalsium juga membuat para perempuan rentan menderita osteoporosis.

Dan penyakit yang pasti melekat dalam diri perempuan adalah menopause. Gejala penyakit ini mulai muncul sejak masa pramenopause, saat menopause dan posmenopause. Menurut spesialis kebidanan dan kandungan dr Hardi Susanto, masa menopause tidak dapat diobati sehingga mustahil untuk dihindari. “Sebab memang tidak ada obatnya,” ujarnya.

Berdasarkan data, kata Hardi, wanita Indonesia yang memasuki masa menopause saat ini sebanyak 7,4% dari populasi. Jumlah tersebut diperkirakan meningkat menjadi 11% pada 2005. Kemudian, naik lagi sebesar 14% pada 2015.

Meningkatnya jumlah itu, lanjutnya, sebagai akibat bertambahnya populasi penduduk usia lanjut dan tingginya usia harapan hidup dibarengi membaiknya derajat kesehatan masyarakat.

Wanita yang memasuki menopause tentu mengalami problem kesehatan, karena berkurangnya hormon estrogen dalam darah. Timbulnya efek itu sebagai dampak menurunnya fungsi ovarium (indung telur). Berkurangnya hormon estrogen membuat mereka mengalami beberapa kelainan, baik yang terjadi dalam jangka pendek maupun panjang. Manifestasi gangguannya bukan cuma fisik, tetapi juga mental.

Sementara itu, spesialis obstetri dan ginekologi lainnya dari Rumah Sakit (RS) Mitra Kemayoran, Jakarta, dr Andon Hestiantoro menguraikan, kelainan dalam jangka pendek, antara lain mudah berkeringat. Mereka juga mengeluhkan munculnya rasa panas di dada dan wajah, sakit kepala (pusing) tanpa diketahui penyebab yang pasti, kulit kering serta berkeriput, juga nyeri pada tulang maupun sendi, termasuk saat melakukan hubungan intim.

“Ada pula yang mudah pingsan, sering marah-marah, lambat mempelajari berbagai hal baru, sukar berkonsentrasi, gampang tersinggung, cemas, sulit tidur, kemampuan daya ingatnya berkurang, ataupun depresi.”

Sedangkan gangguan dalam jangka panjang, kata Andon, antara lain berupa penyakit jantung koroner (PJK), tekanan darah tinggi (hipertensi), menurunnya massa tulang (osteoporosis), dan kepikunan/demensia.

PJK yang cenderung menghantui kaum pria berusia produktif, harus pula diwaspadai oleh wanita berusia lanjut. Karena angka kejadiannya bisa berimbang antara pria dan wanita menopause. Hal itu bisa dilihat di Inggris, wanita berusia 45-54 tahun yang meninggal akibat PJK tercatat 0,31 per 1.000 wanita. Namun, tatkala mereka berusia 65-74 tahun, kasusnya naik menjadi 5,7 per 1.000 wanita. Dan, jumlahnya meningkat sampai 33,4 per 1.000 wanita sewaktu usia mereka mencapai 85 tahun lebih.

Andon menilai, hormon estrogen mampu melindungi wanita dari PJK, sehingga risiko mereka untuk terserang kelainan itu sebelum menopause sampai di atas 35%. Namun, ketika muncul defisiensi hormon kewanitaan tersebut pada masa menopause, maka terjadi penurunan kadar kolesterol baik dalam darah, sekaligus meningkatkan lemak yang jahat.

Osteoporosis

Osteoporosis tergolong ancaman yang tidak kalah besarnya pada wanita menopause. Apalagi, proses pengurangan massa tulang ini telah dimulai lima tahun sebelum tibanya masa menopause.

Menurunnya hormon estrogen menjadikan mereka berisiko mengalami patah tulang. Sebab, tidak ada lagi unsur yang menjaga keseimbangan antara kecepatan proses pembentukan tulang oleh sel osteoblast dan kecepatan proses kerusakan tulang oleh sel osteoklast, seperti di masa usia reproduksi.

Tulang-tulang yang pada umumnya menjadi sasaran serangan osteoporosis terutama yang berongga. Contohnya, tulang belakang, pinggul, leher, paha, maupun lengan bawah.

Kira-kira 20%-30% wanita terancam untuk mengalami patah tulang akibat osteoporosis di saat mereka mencapai usia 70 tahun. Sebab, sepanjang hidupnya, massa tulang mereka menyusut sampai 40%-50%.

Keberadaan hormon estrogen tidak dapat dianggap menjadi satu-satunya penyebab. Walaupun, hormon yang diproduksi oleh indung telur tersebut memberikan andil cukup besar terhadap metabolisme kalsium.

Dari berbagai penelitian, spesialis rehabilitasi medik RS Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr Cipto Mangunkusumo di Jakarta dr Siti Annisa Nuhonni mendapati lebih dari 80% wanita menopause mengalami osteoporosis.

Anemia, menstruasi

Menurut spesialis kebidanan dan kandungan dr Rudy Irwansyah, banyak kelainan yang dialami oleh wanita ternyata berkaitan dengan kesehatan reproduksi. Kekurangan zat besi, yang berpengaruh sekali terhadap kesehatan, adalah salah satunya.

Mereka yang mengalami kelainan tersebut akan pucat, lesu, pusing, dan cepat lelah sewaktu menstruasi. Karena, secara normal, seseorang yang sedang haid mengeluarkan darah sekitar 50 cc. “Artinya, akan menjadi persoalan jika wanita ini harus mengeluarkan darah sebanyak itu dalam kondisi kekurangan zat besi.”

Janin dalam kandungan pun dapat berisiko kekurangan darah bila anemia dialami oleh wanita tatkala hamil. Pasalnya, volume darah dalam janin menjadi bertambah. Sebaliknya, wanita bersangkutan tak mampu memenuhi kebutuhan darah bagi anak yang dikandungnya.

Sayangnya, banyak wanita Indonesia tidak memedulikan ataupun kurang memahami aspek kekurangan zat besi sehingga para remaja putri maupun kaum ibu cenderung terkena anemia.

Konsumsi makanan bergizi, yang banyak mengandung zat besi, diabaikan karena ingin langsing. Rudy melihat banyaknya wanita muda yang berobat ke RS ataupun puskesmas akibat kurang gizi. Belum lagi waktu mereka memasuki masa pernikahan, kemudian mengandung bayinya.

Sementara itu, spesialis gizi dr Hadi S Muktisendjaja dari RS Umum Daerah Pasar Rebo di Jakarta mengatakan, beberapa penelitian menunjukkan adanya pengaruh kekurangan zat besi terhadap tingkat kecerdasan, terutama pada masa kehamilan. Unsur nutrisi, gizi, maupun lingkungan memberikan kontribusi sebanyak 50% terhadap kecerdasan. Yang separuhnya lagi ditentukan oleh faktor keturunan. (Rse/V-1)

Jakarta, Sinar Harapan
Krisis air bersih yang terus mengintai warga dunia tidak bisa dipandang sebelah mata. Di seantero dunia, lebih dari tiga juta nyawa melayang setiap tahun akibat penyakit yang berhubungan dengan keterbatasan air bersih. Muntaber, diare, pelbagai penyakit kulit dan kolera mengancam penduduk di wilayah-wilayah yang minim pasokan air bersih.

Di Indonesia, di mana 50 persen rakyatnya masih belum bisa menikmati air bersih, diare menjadi penyakit yang paling banyak diderita. Uniknya, jumlah penderita diare yang datang ke Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) jauh lebih sedikit dibanding jumlah penderita sebenarnya.
”Mereka yang memeriksakan diri ke Puskemas didata hanya 25 dari per 1.000 penduduk. Namun berdasar survei yang dilakukan Depkes (Departemen Kesehatan) melalui survei kesehatan rumah tangga, ternyata penderita diare berjumlah 300 per 1.000 penduduk, bahkan lebih,” ungkap Hening Darpito, Direktur Air dan Sanitasi Depkes kepada SH di sela acara pameran Indowater Expo Forum 2003 di
Jakarta, Rabu (26/3).
Fakta ini seolah mengatakan bahwa kesadaran penduduk
Indonesia akan kesehatan masih teramat minim. Diare yang disertai gejala buang air terus-menerus, muntah dan kejang perut kerap dianggap bisa sembuh dengan sendirinya tanpa perlu pertolongan medis. Hening menuturkan, memang diare jarang sekali yang berakibat kematian, tapi bukan berarti bisa dianggap remeh.
Penyakit yang juga populer dengan nama muntah berak alias muntaber ini bisa dikatakan sebagai penyakit endemis di
Indonesia, artinya terjadi secara terus-menerus di semua daerah, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Muntaber atau diare menyerang siapa saja tanpa kenal usia.

Kelangkaan Air Bersih
Menurut Hening, kelangkaan air bersih menjadi sebab utama pemicu penyakit ini. Gaya hidup yang jorok, tidak memperhatikan sanitasi menyebabkan usus rentan terhadap serangan virus diare. ”Ditambah lagi kalau makanan yang dikonsumsi itu kotor, maka usus akan dengan mudah terinfeksi. Dari sinilah muntah-muntah dan buang air besar bermula,” jelas Dr. Arindi Kusnoyo, pekerja medis di Puskesmas Tanjung Priuk, Jakarta Utara, dalam kesempatan berbeda.
Arindi yang banyak menangani kasus diare di wilayah yang lumayan sulit mendapat air bersih tersebut mengatakan, kasus diare bila tak ditangani dengan cepat bisa menyebabkan dehidrasi yang jika dibiarkan berujung pada kematian.
Menurut data yang dihimpun Depkes sendiri, diare walau selintas terkesan sebagai penyakit ringan, kadang bisa terjadi secara sporadis.
Ada beberapa kasus diare luar biasa, yakni yang terjadi secara tiba-tiba menyerang banyak orang sekaligus. Namun telah terjadi penurunan kasus semacam ini di sejumlah wilayah di Indonesia. Depkes mencatat pada 1996, kasus luar biasa diare terjadi sebanyak 86 kali dengan jumlah kasus 4.898 orang dan kematian 120 orang. Pada tahun 2000, telah terjadi penurunan menjadi 30 kali yakni 920 kasus dan kematian 19 orang.
Arindi menuturkan, tanda bahwa seseorang menderita diare adalah apabila frekuensi buang air besarnya lebih sering dari normal. Kotoran yang keluar encer dan terdiri dari banyak cairan. Dan gejala seperti ini bisa jadi hanya gejala penyakit yang lebih parah, yakni tipus dan kanker usus.
”Pasien harus diberi banyak minum, makan makanan lunak seperti bubur encer, minum oralit, dan jika tidak membaik harus segera ke dokter. Tapi penderita diare bayi dan balita harus sesegera mungkin dibawa ke dokter, sebab daya tahan tubuh mereka masih sangat lemah,” jelas Arindi.
Dokter di Puskesmas sendiri juga akan mengambil tindakan memberi rujukan ke rumah sakit apabila dirasa penderita sudah cukup parah.
Sebenarnya pencegahan penyakit ini sangat mudah, yakni dengan menjaga kebersihan tubuh, makanan dan minuman. Namun bagi penduduk di mana air bersih sangat sulit mengalir, tindakan tersebut tidak bisa dengan gampang dilakukan. Menurut Menteri Kesehatan Ahmad Sujudi, lebih dari 100 juta penduduk di Indonesia saat ini kekurangan air bersih.
Depkes sudah berupaya membangun sarana air minum dan sanitasi yang dimulai pada era 1970-1980 melalui Proyek Inpers Sarana Kesehatan. Proyek ini meliputi juga sarana air bersih dan pengadaan jamban keluarga. Namun lingkupnya sangat terbatas pada daerah pedesaan.
Kalau saja perbaikan sanitasi dan pengadaan air bersih bisa tercipta, maka penduduk yang menderita akibat diare bisa ditekan jumlahnya. Hasil studi dari pembaga penelitian Universitas Indonesia (UI) tahun 1977 di sejumlah wilayah membuktikan, diare bisa dicegah hingga 35 persen dengan menyediakan air minum bersih. Sedangkan penyediaan jamban mampu mecegah diare sampai 28 persen.
Saat ini, Hening menuturkan bahwa daerah Lampung merupakan daerah yang paling minim mendapat konsumsi air bersih. ”Daerah ini banyak terdapat penduduk pendatang. Kondisi ini menyebabkan memadatnya penduduk di suatu tempat sehingga konsumsi air bersih tidak merata,” tuturnya.
Sedangkan daerah lain yang tidak kalah memprihatinkan adalah Kalimantan. Walaupun di pulau tersebut banyak terdapat sungai, tapi semuanya adalah sungai terbuka. Sungai semacam ini sudah banyak terkontaminasi zat-zat yang tidak bisa dikonsumsi manusia.
Sementara di kota besar semacam Jakarta, air bersih sulit didapat di wilayah yang berjauhan dari tempat pengelolaan air bersih seperti Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Padahal justru di wilayah inilah penduduknya tinggal berhimpitan dan sangat padat.
Arindi yang sudah tiga tahun bertugas di Puskesmas Tanjung Priuk tidak bisa menyebutkan data jumlah penderita diare dengan pasti. ”Rata-rata yang datang kemari adalah balita yang dibawa ibunya, jarang orang dewasa. Kalau pun ada, mereka sudah dalam kondisi parah dan saya harus merujuknya ke rumah sakit,” ujar Arindi. Tapi melihat gaya hidup dan minimnya sanitasi masyarakat sekitar, ia yakin bahwa sebenarnya penderita diare jauh lebih banyak dari yang sempat datang ke Puskesmas.
(mer)

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.



One Response to “Masyarakat Diminta Waspadai Virus Hepatitis A”

  1. Great piece of details that you’ve obtained on this website submit. Hope I might get some a lot more of the stuff in your website. I will are available back again.

Leave a Reply