Anak-anak dapat pula mengalami stres dan bila tidak dapat diatasi dengan baik dapat menyebabkan penyakit secara fisik, emosi maupun mental. Maka, bagaimana Anda sebagai orang tua dapat mengetahui gejala stres pada anak? Apa penyebabnya? Apa yang dapat dilakukan untuk membantu anak keluar dari stres anak?
Penyebab Stres Anak
Stres pada anak dapat terjadi pada berbagai usia, bahkan sejak usia dini, sejak dalam kandungan. Bila ibu yang mengandung mengalami stres, janin yang ada dalam kandungan juga akan merasakannya. Detak jantung janin menjadi tidak teratur, sehingga persediaan oksigen dan sari makanan berkurang. Seiring pertambahan usia terutama saat masa remaja, berbagai penyebab dapat memicu stres pada anak, di antaranya adalah:
Pola asuh orangtua sangat memengaruhi kepribadian anak. Seorang anak yang dibesarkan oleh ibu yang memiliki sikap positif dan toleran cenderung akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri dan lebih mampu mengatasi stres dalam hidupnya.
Para ahli sejak lama telah mengetahui banyak hal yang diwariskan orangtua pada anaknya. Selain bakat dan kecerdasan, secara genetik anak-anak juga akan mendapatkan kebiasaan, penyakit, dan juga stres. Ya, stres dan depresi memang bisa menurun pada anak.
Namun, selain genetik, pola asuh (nurture) berperan cukup besar dalam membentuk kepribadian anak. Hal itu terbukti dalam penelitian yang dimuat dalam jurnal Developmental Psychology. Para ahli menemukan bayi yang terlahir dari ibu yang depresi namun diadopsi dan dibesarkan oleh ibu yang responsif pada emosi anak, akan tumbuh menjadi anak yang lebih anteng dan jarang rewel.
Sebaliknya dengan anak-anak yang memiliki ibu angkat yang kurang responsif (jarang memberi feedback positif atau tak ada saat anak butuh dukungan) cenderung lebih rewel.
“Anak mungkin mewarisi depresi yang dialami orangtuanya. Namun bakat tersebut tidak akan berkembang bila anak dibesarkan dalam lingkungan yang positif serta ibu yang responsif pada kebutuhan anak,” kata Misaki Natsuaki, psikolog dari Universitas California, yang melakukan studi ini.
Pola pengasuhan yang responsif juga akan membuat anak lebih pandai mengelola emosinya sehingga anak mampu mengendalikan perasaannya sehingga emosinya tidak meledak-ledak.
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.