
APA ITU DEMAM BERDARAH
Demam berdarah merupakan suatu penyakit akut yang disebabkan oleh infeksi virus yang dibawa oleh nyamuk yang dikenal dengan sebutan Aedes Aegypti serta Aedes Albopictus betina yang umumnya menyerang pada musim panas dan musim hujan.
GEJALA-GEJALA
Demam tinggi (38-40 C) yang berlangsung 2 sampai 7 hari sakit kepala rasa sakit yang sangat besar pada otot dan persendian bintik-bintik merah pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah pendarahan pada hidung dan gusi mudah timbul memar pada kulit shock yang ditandai oleh rasa sakit pada perut, mual, muntah, jatuhnya tekanan darah, pucat, rasa dingin yang tinggi terkadang disertai pendarahan .
PENULARAN
Melalui gigitan nyamuk Aedes betina yang sebelumnya telah membawa virus dalam tubuhnya dari penderita demam berdarah.
YANG BERESIKO MENDERITA DEMAM BERDARAH
- Orang-orang yang tinggal di daerah pinggiran dan kumuh.
- Anak-anak berusia di bawah 15 tahun
- Orang-orang yang tinggal di lingkungan yang lembab
GEJALA-GEJALA DBD
- Mendadak panas tinggi selama 2-7 hari, tanpak lemah, suhu tubuh antara 38-40°C atau lebih.
- Tampak bintik-bintik merah pada kulit, seperti bekas gigitan nyamuk yang disebabkan pecahnya pembuluh darah kapiler di kulit. Untuk membedakannya, kulit direnggangkan, bila bintik merah hilang berarti bukan tanda penyakit DBD.
- Kadang-kadang terjadi perdarahan di hidung (mimisan).
- Mungkin terjadi muntah darah atau berak darah.
- Kadang-kadang nyeri ulu hati, karena perdarahan di lambung.
- Bila sudah parah, penderita gelisah, ujung tangan dan kaki dingin berkeringat. Bila tidak segera di tolong di rumah sakit dalam 2-3 hati dapat meninggal dunia.
- Para penderita DBD mengalami perdarahan di seluruh jaringan tubuh yang bisa tampak atau tak tampak dari luar.
PERTOLONGAN PERTAMA
- Beri minum sebanyak-banyaknya dengan air yang sudah dimasak seperti air susu, teh atau air minum lainnya, dapat juga dengan oralit.
- Berikan kompres air dingin atau es.
- Berikan obat penurun panah misalnya parasetamol (dosis anak-anak 10-20 mg/Kg BB per hari; dewasa; 3×1 tablet/hari).
- Harus segera dibawa ke dokter, petugas puskesmas pembantu, bidan desa, perawat pembina desa, Puskesmas atau Rumah Sakit.
CARA MENCEGAH DBD
Untuk mencegah DBD, nyamuk penularnya harus diberantas, sebab vaksin untuk mencegahnya belum ada.
Untuk memberantas nyamuk Aedes Aegypti, maka jentik-jentiknya harus diberantas atau sarang-sarangnya harus diberantas (PSN-DBD).
Karena tempat berkembang biaknya terdapat di rumah-rumah dan tempat-tempat umum maka setiap keluarga harus melaksanakan PSN-DBD, secara teratur sekurang-kurangnya seminggu sekali.
Virus Dengue
Termasuk famili Flaviviridae, yang berukuran kecil sekali yaitu 35-45 nm.
Virus ini dapat tetap hidup (survive) dialam ini melalui dua mekanisme.
Mekanisme pertama, tranmisi vertikal dalam tubuh nyamuk. Dimana virus dapat ditularkan oleh nyamuk betina pada telurnya, yang nantinya akan menjadi nyamuk. Virus juga dapat ditularkan dari nyamuk jantan pada nyamuk betina melalui kontak seksual.
Mekanisme kedua, tranmisi virus dari nyamuk ke dalam tubuh makhluk ~Vertebrata~ dan sebaliknya. Yang dimaksud dengan makhluk vertebrata disini adalah manusia dan kelompok kera tertentu.
Virus dengue dalam tubuh nyamuk
Nyamuk mendapatkan virus ini pada saat melakukan gigitan pada manusia (makhluk vertebrata) yang pada saat itu sedang mengandung virus dengue didalam darahnya (viraemia). Virus yang sampai kedalam lambung nyamuk akan mengalami replikasi (memecah diri/kembang biak), kemudian akan migrasi yang akhirnya akan sampai di kelenjar ludah. Virus yang berada di lokasi ini setiap saat siap untuk dimasukkan ke dalam kulit tubuh manusia melalui gigitan nyamuk.
Virus dengue dalam tubuh manusia
Virus memasuki tubuh manusia melalui gigitan nyamuk yang menembus kulit. Setelah itu disusul oleh periode tenang selama kurang lebih 4 hari, dimana virus melakukan replikasi secara cepat dalam tubuh manusia. Apabila jumlah virus sudah cukup maka virus akan memasuki sirkulasi darah (viraemia), dan pada saat ini manusia yang terinfeksi akan mengalami gejala panas. Dengan adanya virus dengue dalam tubuh manusia, maka tubuh akan memberi reaksi. Bentuk reaksi tubuh terhadap virus ini antara manusia yang satu dengan manusia yang lain dapat berbeda, dimana perbedaan reaksi ini akan memanifestasikan perbedaan penampilan gejala klinis dan perjalanan penyakit. Pada prinsipnya, bentuk reaksi tubuh manusia terhadap keberadaan virus dengue adalah sebagai berikut :
Bentuk reaksi pertama
Terjadi netralisasi virus, dan disusul dengan mengendapkan bentuk netralisasi virus pada pembuluh darah kecil di kulit berupa gejala ruam (rash).
Bentuk reaksi kedua
Terjadi gangguan fungsi pembekuan darah sebagai akibat dari penurunan jumlah dan kualitas komponen-komponen beku darah yang menimbulkan manifestasi perdarahan.
Bentuk reaksi ketiga
Terjadi kebocoran pada pembuluh darah yang mengakibatkan keluarnya komponen plasma (cairan) darah dari dalam pembuluh darah menuju ke rongga perut berupa gejala ascites dan rongga selaput paru berupa gejala efusi pleura. Apabila tubuh manusia hanya memberi reaksi bentuk 1 dan 2 saja maka orang tersebut akan menderita demam dengue, sedangkan apabila ketiga bentuk reaksi terjadi maka orang tersebut akan mengalami demam berdarah dengue.
Penampilan klinis infeksi virus dengue
Demam dengue
Ditandai oleh gejala-gejala klinik berupa demam, nyeri pada seluruh tubuh, ruam dan perdarahan.
Demam
Demam yang terjadi pada infeksi virus dengue ini timbulnya mendadak, tinggi (dapat mencapai 39-40 derajat celcius) dan dapat disertai dengan menggigil. Begitu mendadaknya, sering kali dalam praktek sehari-hari kita mendengar cerita ibu bahwa pada saat melepas putranya berangkat sekolah dalam keadaan sehat walafiat, akan tetapi pada saat pulang putranya sudah mengeluh panas dan ternyata panasnya langsung tinggi. Pada saat anak mulai panas ini biasanya sudah tidak mau bermain. Demam ini hanya berlangsung untuk 5-7 hari. Pada saat demamnya berakhir, sering kali dalam bentuk turun mendadak (lysis), dan disertai dengan berkeringat banyak, dimana anak tampak agak loyo. Kadang-kadang dikenal istilah demam biphasik, yaitu demam yang berlangsung selama beberapa hari itu sempat turun ditengahnya menjadi normal kemudian naik lagi dan baru turun lagi saat penderita sembuh (gambaran kurva panas sebagai punggung unta).
Nyeri seluruh tubuh
Dengan timbulnya gejala panas pada penderita infeksi virus dengue maka akan segera disusul dengan timbulnya keluhan nyeri pada seluruh tubuh. Pada umumnya yang dikeluhkan adalah nyeri otot, nyeri sendi, nyeri punggung dan nyeri pada bola mata yang semakin meningkat apabila digerakkan. Karena adanya gejala nyeri ini sehingga di kalangan masyarakat awam ada istilah flu tulang. Dengan sembuhnya penderita gejala-gejala nyeri pada seluruh tubuh ini juga akan hilang.
Ruam
Ruam yang terjadi pada infeksi virus dengue ini dapat timbul pada saat awal panas yang berupa ~flushing~ yaitu berupa kemerahan pada daerah muka, leher, dan dada. Ruam juga dapat timbul pada hari ke-4 sakit berupa bercak-bercak merah kecil seperti bercak pada penyakit campak. Kadang-kadang ruam yang seperti campak ini hanya timbul pada daerah tangan atau kaki saja sehingga memberi bentuk spesifik seperti kaos tangan/kaki.
Perdarahan
Pada infeksi virus dengue apalagi pada bentuk klinis demam berdarah dengue selalu disertai dengan tanda perdarahan. Hanya saja tanda perdarahan ini tidak selalu didapat secara spontan oleh penderita, bahkan pada sebagian besar penderita tanda perdarahan ini muncul setelah dilakukan test tourniquet. Bentuk-bentuk perdarahan spontan yang dapat terjadi pada penderita demam dengue dapat berupa perdarahan kecil-kecil di kulit (petechiae), perdarahan agak besar di kulit (echimosis), perdarahan gusi, perdarahan hidung dan kadang-kadang dapat terjadi perdarahan yang masif yang dapat berakhir dengan kematian. Berkaitan dengan tanda perdarahan ini, perlu dikemukakan bahwa pada anak-anak tertentu diketahui oleh orang tuanya bahwa apabila anaknya menderita panas selalu disertai dengan perdarahan hidung (epistaksis). Dalam dunia kedokteran hal tersebut diatas dikenal sebagai habitual epistaksis, sebagai akibat kelainan yang bersifat sementara dari komponen beku darah yang disebabkan oleh segala bentuk infeksi (tidak hanya oleh virus dengue). Pada keadaan lain ada penderita anak yang apabila mengalami sakit panas kemudian minum obat-obat panas tertentu akan disusul dengan terjadinya perdarahan hidung. Untuk penderita model begini ini obat-obat panas jenis tertentu tersebut sebaiknya dihindari.
Demam berdarah dengue
Secara umum 4 gejala yang terjadi pada demam dengue sebagai manifestasi gejala klinis dari bentuk reaksi 1 dan 2 tubuh manusia atas keberadaan virus dengue juga didapatkan pada demam berdarah dengue. Yang membedakan demam berdarah dengue dengan demam dengue adalah adanya manifestasi gejala klinis sebagai akibat adanya bentuk reaksi 3 tubuh manusia terhadap virus dengue, yaitu berupa keluarnya plasma (cairan) darah dari dalam pembuluh darah keluar dan masuk kedalam rongga perut dan rongga selaput paru. Fenomena ini apabila tidak segera ditanggulangi dapat mempengaruhi manifestasi gejala perdarahan menjadi sangat masif. Yang dalam praktek kedokteran sering kali membuat seorang dokter terpaksa memberikan tranfusi darah dalam jumlah yang tidak terbayangkan. Yang penting untuk ibu-ibu/awam adalah dapat mengetahui/mendeteksi kapan seorang penderita demam berdarah dengue mulai mengalami keluarnya plasma (cairan) darah dari dalam pembuluh darah. Keluarnya plasma darah ini apabila ada biasanya terjadi pada hari sakit ke-3 sampai dengan ke-6. Biasanya didahului oleh penurunan panas badan penderita, yang sering kali terjadi secara memdadak (lysis) dan diikuti oleh keadaan anak yang tampak loyo, dan pada perabaan akan didapatkan ujung-ujung tangan/kaki dingin serta nadi yang kecil dan cepat. Pengalaman dalam praktek dokter mengajarkan bahwa banyak ibu-ibu yang pada saat demikian ini, dimana suhu tubuh putranya dirasakan normal mengira kalau putranya sembuh dari sakit. Dengan akibat si ibu tidak segera membawa putranya ke fasilitas kesehatan terdekat, dan baru terkejut beberapa waktu kemudian apabila menyadari bahwa putranya semakin lemah dan loyo. Pada keadaan ini penderita sudah dalam keadaan terlambat/kurang optimal untuk diselamatkan dari penyakitnya.
Hal-hal yang patut diketahui, diwaspadai dalam rangka mengantisipasi penderita demam berdarah dengue
Pembahasan ini tidak bermaksud mendidik ibu-ibu menjadi seorang dokter, akan tetapi bertujuan untuk menjadikan ibu-ibu mengetahui kemudian mewaspadai hal-hal/gejala-gejala yang terjadi pada anak yang mungkin mengarah pada penyakit demam dengue/demam berdarah dengue. Apabila ibu-ibu mencurigai putra/putrinya menderita penyakit tersebut maka segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat, untuk mendapatkan klarifikasi tentang penyakit yang diderita oleh putranya tersebut. Untuk klarifikasi ini putra/putri ibu akan menjalani pemeriksaan seperti tourniguet test atau pemeriksaan darah.
Ingatlah penyakit demam dengue/demam berdarah dengue apabila putra/putri ibu menderita hal-hal seperti berikut :
1. Panas yang timbulnya mendadak, langsung tinggi dan disertai dengan tidak mau bermain.
2. Panas yang disertai flushing.
3. Panas yang disertai tanda-tanda perdarahan (kulit, hidung,gusi).
4. Panas yang berangsur dingin, tapi anak tampak loyo dan pada perabaan dirasakan ujung-ujung tangan/kaki dingin.
Kesimpulan dan saran
Apabila ibu-ibu mendapati putra/putrinya sakit panas, hal yang penting dilakukan adalah memberikan perhatian secara sungguh-sungguh, kemudian mengamati aspek yang berkaitan dengan panasnya maupun hal-hal lain yang menyertainya. Kalau ditemui hal-hal yang mengarah ke penyakit demam dengue/demam berdarah dengue maka segeralah dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk klarifikasi dan penanganannya. Jangan sampai terlambat.
Dr. Widodo Darmowandowo SpA(K), Lab/SMF Ilmu Kesehatan Anak , F.K.Unair/RSUD Dr.Soetomo
Sumber tulisan: www.pediatrik.com/ilmiah_populer/demam_berdarah.htm
PENCEGAHAN
Diarahkan ke pembasmian nyamuk Aedes yang menjadi perantaranya dengan tidak menyediakan tempat perkembangbiakannya yang berupa tempat lembab, dan air.
PENGOBATAN
Dilakukan dengan pengobatan terhadap tingkat gejala yang timbul, sehingga dapat dikurangi, sebab masih belum adanya vaksin yang dapat menyembuhkan demam berdarah secara langsung.
Abatisasi. Pemberian serbuk abate pada tempat-tempat yang digenangi air, termasuk bak mandi, jambangan bunga, selokan dsb.
Biasanya dilakukan dalam rangka membasmi nyamuk Aedes aegypti dan mencegah wabah.
Tindakan ini tidak membunuh nyamuk tetapi membunuh jentik-jentiknya untuk memutuskan mata rantai perkembang-biakannya.
Usaha ini hanya dapat mencapai tujuan bila dilakukan secara serempak oleh warga dari suatu wilayah atau beberapa wilayah yang luas.
Aedes aegypti. Nyamuk yang menjadi perantara penularan penyakit Demam Berdarah Dengue.
Nyamuk ini biasa ditemukan di dalam atau di halaman sekitar rumah.
Berbeda dengan nyamuk lain yang biasa berkeliaran pada malam hari, Aedes berbadan sedikit lebih kecil, tubuhnya sampai ke kaki berwarna hitam bergaris-garis putih dan nyamuk ini aktif di siang hari.
Nyamuk ini biasa bertelur pada genangan air yang tenang dan bersih, seperti jambangan bunga, tempayan dsb.
Analgetika. Golongan obat yang berkhasiat mengurangi rasa sakit, seperti aspirin, parasetamol dsb.
Antipiretika. Golongan obat yang berkhasiat menurunkan panas, seperti parasetamol, antalgin dsb.
Bakteri. Jasad renik yang merupakan tumbuh-tumbuhan yang terkecil, terdiri dari satu sel saja, hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop.
Beberapa bakteri yang dapat menimbulkan penyakit antara lain :
Berdasarkan hasil warna yang ditimbulkan dengan sistem pewarnaan Gram, bakteri dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu bakteri Gram positif (contoh: Bacillus anthracis, penyebab penyakit anthrax) dan bakteri Gram negatif (contoh: Shigella dysenteriae, penyebab penyakit disentri basiler).
Cyanosis/Sianosis Perubahan warna warna kulit menjadi kebiru-biruan, biasanya terutama terlihat pada bibir, wajah, ujung jari dan kuku. Cyanosis terjadi bila kadar hemoglobin yang tidak mengikat oksigen meningkat sampai jumlah tertentu.
Demam. Peningkatan suhu tubuh dari normalnya. Dalam keadaan normal suhu tubuh berkisar antara 36,5 – 37 derajat Celcius.
Demam merupakan gejala adanya suatu infeksi, gangguan metabolisme, atau suatu kerusakan jaringan yang luas.
Ekhimosis. Bercak-bercak perdarahan di bawah kulit yang tampak dari luar berwarna kemerahan dan kemudian akan berubah menjadi hijau.
Ekhimosis terjadi akibat keluarnya darah dari pembuluh ke jaringan di bawah kulit karena adanya kerusakan pada pembuluh darah.
Fogging. Penyemprotan insektisida secara pengkabutan, biasanya dilakukan di wilayah yang ada penderita Demam Berdarah Dengue, untuk membunuh semua nyamuk.
Sebenarnya tindakan ini ditujukan untuk membunuh nyamuk yang diduga telah menggigit seorang penderita DBD agar tidak menularkan pada orang lain.
Gejala/simtom. Setiap perubahan pada tubuh atau bagian tubuh atau pada suatu fungsi tertentu yang tampak / terasa yang menunjukkan adanya suatu penyakit tertentu, misalnya: bengkak pada kaki, adalah salah satu gejala dari penyakit kaki gajah.
Kumpulan dari beberapa gejala disebut sindrom
Hipereksitasi. Peningkatan yang abnormal dari respon syaraf /otot-syaraf terhadap suatu rangsangan.
Hiperestesi. Peningkatan yang abnormal dari indera perasa, misalkan kulit tersentuh benda yang lembut saja menimbulkan rasa sakit.
Immunisasi. Upaya pemberian / peningkatan kekebalan tubuh terhadap suatu kuman / penyakit tertentu.
Infus. Cara pemberian cairan / obat / zat makanan melalui pembuluh darah.
Masa Tunas / masa inkubasi. Masa antara kuman masuk kedalam tubuh penderita sampai munculnya gejala penyakit.
Pada masa tersebut kuman memperbanyak diri di dalam tubuh penderita, sampai mencapai jumlah yang cukup atau menghasilkan racun yang cukup untuk menimbulkan gejala yang terdeteksi.
Kompres. Pemasangan kain yang dibasahi dengan air atau obat pada suatu bagian tubuh tertentu dengan tujuan mendingin kan, menghangatkan atau memberikan obat tertentu.
Mikroskop. Alat untuk melihat mahluk atau benda-benda yang berukuran sangat kecil.
Neuromuskular. Otot dan syaraf. Berkaitan dengan saling berkaitnya fungsi otot dan syaraf.
Penularan Penyakit. Cara berpindahnya penyakit dari orang sakit kepada orang sehat berbeda-beda untuk tiap jenis penyakit :
Petechiae. Bintik-bintik merah pada kulit akibat adanya titik-titik darah yang keluar dari pembuluh darah ke jaringan bawah kulit.
Protozoa. Jasad renik yang merupakan hewan bersel tunggal (hanya terdiri dari satu sel), hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop.
Beberapa protozoa yang dapat menimbulkan penyakit antara lain :
Simtomatik. Berhubungan dengan gejala. Pengobatan simtomatik adalah pengobatan dengan menghilangkan atau mengurangi gejala, misalnya demamnya diturunkan, rasa nyerinya dikurangi dsb.
Serum. Cairan bening yang merupakan bagian dari darah, yaitu cairan plasma darah yang sudah tidak mengandung zat-zat atau faktor-faktor pembekuan darah. Di dalam pembicaraan tentang imunisasi biasanya diartikan serum darah (manusia atau binatang) yang sudah mengandung zat anti terhadap penyakit tertentu karena telah pernah terinfeksi oleh kuman penyebabnya, baik yang terjadi secara tidak sengaja (karena sakit) ataupun yang terjadi dengan sengaja (binatang penghasil serum tersebut dibuat terpapar bagian dari kuman atau kuman yang sudah dilemahkan) agar dapat digunakan sebagai pengobatan atau imunisasi pasif untuk seorang pasien yang menderita atau yang dikhawatirkan akan menderita penyakit akibat kuman tersebut.
Spora. Bentuk tak aktif dari bakteri, protozoa atau jamur yang bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya bila berada di dalam lingkungan yang tak tak menyokong hidupnya. Spora biasanya sulit dibunuh karena berdinding tebal sehingga sangat tahan panas.
Syok. Gangguan pada sistem sirkulasi darah (jantung dan pembuluh-pembuluh darah) yang berakibat kegagalan sistem tersebut untuk mensuplai makanan dan oksigen dalam jumlah yang cukup kepada seluruh jaringan tubuh dan mengangkut sisa-sisa metabolisme jaringan tersebut untuk dibuang melalui sistem pembuangan. Penderita syok akan mengalami gejala pusing/sakit kepala berat, penurunan kesadaran. Tekanan darah menurun drastis sampai 0/0, denyut nadi menjadi cepat tetapi pada perabaan melemah bahkan sampai tak teraba. Keadaan syok pada tingkat yang masih ringan sebelum terjadinya gangguan sirkulasi total disebut Presyok.
Vaksin. Mikroorganisme atau bagian dari mikroorganisme yang telah dilemahkan atau dimatikan, yang digunakan untuk merangsang tubuh agar membentuk zat anti terhadap mikroorganisme tersebut, dalam upaya melakukan pencegahan penyakit yang ditimbulkannya.
Vektor. Binatang, biasanya artropoda, yang menjadi perantara berpindahnya mikroorganisme penyebab suatu penyakit dari orang sakit ke orang yang sehat. Contoh : Nyamuk Aedes aegypti memindahkan virus dengue sehingga menularkan penyakit Demam berdarah.
Virus. Mahluk hidup yang terkecil, yang tak dapat dilihat dengan mikroskop biasa, tetapi harus menggunakan mikroskop elektron.
Tidak seperti bakteri atau protozoa mahluk ini tidak dapat digolongkan ke dalam kelompok tumbuh-tumbuhan maupun hewan.
Beberapa contoh penyakit yang disebabkan oleh virus antara lain :
Sepsis. Suatu keadaan patologis (tak sehat) akibat masuknya kuman penyakit atau produk beracun dari kuman tsb. ke dalam pembuluh darah sehingga menyebar ke seluruh tubuh. Penderita biasanya mengalami demam tinggi disertai tanda-tanda penyebaran kuman ke jaringan-jaringan tertentu di seluruh tubuh.
Wabah. Terjadinya kasus-kasus suatu penyakit yang dalam waktu singkat mencapai jumlah yang sangat banyak.
. Identifikasi Penularan DBD
1. Penyebab
Penyakit DBD disebabkan oleh Virus Dengue dengan tipe DEN 1, DEN 2, DEN 3 dan DEN 4. Virus tersebut termasuk dalam group B Arthropod borne viruses (arboviruses). Keempat type virus tersebut telah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia antara lain Jakarta dan Yogyakarta. Virus yang banyak berkembang di masyarakat adalah virus dengue dengan tipe satu dan tiga. 3
2. Gejala
Gejala pada penyakit demam berdarah diawali dengan :
a. Demam tinggi yang mendadak 2-7 hari (38 °C- 40 °C)
b. Manifestasi pendarahan, dengan bentuk : uji tourniquet positif puspura pendarahan, konjungtiva, epitaksis, melena, dsb.
c. Hepatomegali (pembesaran hati).
d. Syok, tekanan nadi menurun menjadi 20 mmHg atau kurang, tekanan sistolik sampai 80 mmHg atau lebih rendah.
e. Trombositopeni, pada hari ke 3 – 7 ditemukan penurunan trombosit sampai 100.000 /mm³.
f. Hemokonsentrasi, meningkatnya nilai Hematokrit.
g. Gejala-gejala klinik lainnya yang dapat menyertai: anoreksia, lemah, mual, muntah, sakit perut, diare kejang dan sakit kepala.
h. Pendarahan pada hidung dan gusi.
i. Rasa sakit pada otot dan persendian, timbul bintik-bintik merah pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah.
3. Masa Inkubasi
Masa inkubasi terjadi selama 4-6 hari.
4. Penularan
Penularan DBD terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti / Aedes albopictus betina yang sebelumnya telah membawa virus dalam tubuhnya dari penderita demam berdarah lain. Nyamuk Aedes aegypti berasal dari Brazil dan Ethiopia dan sering menggigit manusia pada waktu pagi dan siang.
Orang yang beresiko terkena demam berdarah adalah anak-anak yang berusia di bawah 15 tahun, dan sebagian besar tinggal di lingkungan lembab, serta daerah pinggiran kumuh. Penyakit DBD sering terjadi di daerah tropis, dan muncul pada musim penghujan. Virus ini kemungkinan muncul akibat pengaruh musim/alam serta perilaku manusia.
5. Penyebaran
Kasus penyakit ini pertama kali ditemukan di Manila, Filipina pada tahun 1953. Kasus di Indonesia pertama kali dilaporkan terjadi di Surabaya dan Jakarta dengan jumlah kematian sebanyak 24 orang. Beberapa tahun kemudian penyakit ini menyebar ke beberapa propinsi di Indonesia, dengan jumlah kasus sebagai berikut :
- Tahun 1996 : jumlah kasus 45.548 orang, dengan jumlah kematian
sebanyak 1.234 orang.
- Tahun 1998 : jumlah kasus 72.133 orang, dengan jumlah kematian
sebanyak 1.414 orang (terjadi ledakan)
- Tahun 1999 : jumlah kasus 21.134 orang.
- Tahun 2000 : jumlah kasus 33.443 orang.
- Tahun 2001 : jumlah kasus 45.904 orang
- Tahun 2002 : jumlah kasus 40.377 orang.
- Tahun 2003 : jumlah kasus 50.131 orang.
- Tahun 2004 : sampai tanggal 5 Maret 2004 jumlah kasus sudah
mencapai 26.015 orang, dengan jumlah kematian
sebanyak 389 orang.
III. PENCEGAHAN
Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian vektornya, yaitu nyamuk Aedes aegypti. Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yang tepat, yaitu :
1. Lingkungan
Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan manusia, dan perbaikan desain rumah. Sebagai contoh:
Menguras bak mandi/penampungan air sekurang-kurangnya sekali seminggu.
Mengganti/menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu sekali.
Menutup dengan rapat tempat penampungan air.
Mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah dan lain sebagainya.
2. Biologis
Pengendalian biologis antara lain dengan menggunakan ikan pemakan
jentik (ikan adu/ikan cupang), dan bakteri (Bt.H-14).
3. Kimiawi
Cara pengendalian ini antara lain dengan:
Pengasapan/fogging (dengan menggunakan malathion dan fenthion), berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu tertentu.
Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan air seperti, gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain.
Cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD adalah dengan mengkombinasikan cara-cara di atas, yang disebut dengan “3M Plus”, yaitu menutup, menguras, menimbun. Selain itu juga melakukan beberapa plus seperti memelihara ikan pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang kasa, menyemprot dengan insektisida, menggunakan repellent, memasang obat nyamuk, memeriksa jentik berkala, dll sesuai dengan kondisi setempat.
IV. PENGOBATAN
Pengobatan penderita Demam Berdarah adalah dengan cara:
• Penggantian cairan tubuh.
• Penderita diberi minum sebanyak 1,5 liter –2 liter dalam 24 jam (air teh dan gula sirup atau susu).
• Gastroenteritis oral solution/kristal diare yaitu garam elektrolit (oralit), kalau perlu 1 sendok makan setiap 3-5 menit.
DEMAM BERDARAH
Gambaran Klinis
Demam yang akut, selama 2 hingga 7 hari, dengan 2 atau lebih gejala ? gejala berikut : nyeri kepala, , nyeri otot, nyeri persendian, bintik-bintik pada kulit sebagai manifestasi perdarahan dan leukopenia.
Kriteria Untuk Diagnosa Laboratorium
Satu atau lebih dari hal-hal berikut :
Isolasi virus dengue dari serum, plasma, leukosit ataupun otopsi.
Ditemukannya anti bodi IgG ataupun AgM yang meningkatkan tinggi titernya mencapai empat kali lipat terhadap satu atau lebih antigen dengue dalam spesimen serta berpadangan.
Dibuktikan adanya virus dengue dari jaringan otopsi dengan cara immunokimiawi atau dengan cara immuno-flouresens, ataupun didalam spesimen serum dengan uji ELISA
Dibuktikan dengan keberadaan gambaran genomic sekuen virus dari jaringan otopsi, sediaan serum atau cairan serebro spinal (CSS), dengan uji Polymerase Chain Reaction ( PCR).
Klarifikasi Kasus
Dicurigai sebagai kasus : Yaitu kasus yang jelas dengan melihat gejala klinisnya.
Kemungkinan sebagai Kaus : ialah kasus yang menunjukkan gejala klinis dan didukung oleh satu atau lebih dari ;
Uji serologi berupa munculnya titer anti bodi dengan hemaglutinasi ? inhibisi 1280 atau lebih yang sebanding dengan titer positif IgG dengan uji ELISA, ataupun titer positif zat anti bodi IgM pada fase akhir yang akut pada fase konvalesens.
Munculnya kasus DD lain dilokasi dan waktu yang sama
Kasus yang Pasti : ialah kasus yang secara klinis benar, serta didukung pula kebenarannya secara laboratoris.
Kriteria Untuk Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Sindrom Syok Dengue (SSD)
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah kasus tersangka ataupun kasus yang pasti dari dengue dengan kecenderungan perdarahan disertai adanya satu atau lebih dari hal ? hal berikut :
Tes Tourniquet yang positif.
Adanya perdarahan dalam bentuk petekiae, ekimosis atau purpura.
Perdarahan selaput lendir mukosa, alat cerna gastrrointestinal, tempat suntikan atau ditempat lainnya.
Hematemesis atau melena
Dan trombositopenia ( < 100.000 per mm3)
Dan perembesan plasma yang erat hubungannya dengan kenaikan permiabilitas dinding pembuluh darah, yang ditandai dengan munculya satu atau lebih dari :
Kenaikan nilai 20 % (hematokrit atau lebih tergantung umur dan jenis kelamin)
Menurunnya nilai hematokrit dari nilai dasar 20 % atau lebih sesudah pengobatan.
Tanda ? tanda perembesan plasma ( yaitu, efusi pleura, asites, hipoproteinaemia
2. Sindrom Syok Dengue (SSD)
Mencakup semua kriteria DBD diatas ditambah lagi dengan munculnya gangguan sirkulasi darah dengan tanda-tanda denyut nadi menjadi lemah dan cepat, menyempitnya tekanan nadi (20 mmHg atau kurang) atau hipotesi berdasar umur, kedinginan, keringat dingin dan gelisah.
DHF / DBD
Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue Famili Flaviviridae,dengan genusnya adalah flavivirus. Virus ini mempunyai empat serotipe yang dikenal dengan DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. Selama ini secara klinik mempunyai tingkatan manifestasi yang berbeda, tergantung dari serotipe virus Dengue. Morbiditas penyakit DBD menyebar di negara-negara Tropis dan Subtropis. Disetiap negara penyakit DBD mempunyai manifestasi klinik yang berbeda.
Di Indonesia Penyakit DBD pertama kali ditemukan pada tahun 1968 di Surabaya dan sekarang menyebar keseluruh propinsi di Indonesia. Timbulnya penyakit DBD ditenggarai adanya korelasi antara strain dan genetik, tetapi akhir-akhir ini ada tendensi agen penyebab DBD disetiap daerah berbeda. Hal ini kemungkinan adanya faktor geografik, selain faktor genetik dari hospesnya. Selain itu berdasarkan macam manifestasi klinik yang timbul dan tatalaksana DBD secara konvensional sudah berubah.
Infeksi virus Dengue telah menjadi masalah kesehatan yang serius pada banyak negara tropis dan sub tropis. Kejadian penyakit DBD semakin tahun semakin meningkat dengan manifestasi klinis yang berbeda mulai dari yang ringan sampai berat. Manifestasi klinis berat yang merupakan keadaan darurat yang dikenal dengan Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) dan Dengue Shock Syndrome (DSS).
Manifestasi klinis infeksi virus Dengue termasuk didalamnya Demam Berdarah Dengue sangat bervariasi, mulai dari asimtomatik, demam ringan yang tidak spesifik, Demam Dengue, Demam Berdarah Dengue, hingga yang paling berat yaitu Dengue Shock Syndrome (DSS). Dalam praktek sehati-hari, pada saat pertama kali penderita masuk rumah sakit tidaklah mudah untuk memprediksikan apakah penderita Demam Dengue tersebut akan bermanifestasi menjadi ringan atau berat. Infeksi sekunder dengan serotipe virus dengue yang berbeda dari sebelumnya merupakan faktor resiko terjadinya manifestasi Deman Berdarah Dengue yang berat atau Dengue Shock Syndrome (DSS). Namun sampai saat ini mekanisme respons imun pada infeksi oleh virus Dengue masih belum jelas, banyak faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue, antara lain faktor host, lingkugan (environment) dan faktor virusnya sendiri. Faktor host yaitu kerentanan (susceptibility) dan respon imun. Faktor lingkungan (environment) yaitu kondisi geografi (ketinggian dari permukaan laut, curah hujan, angin, kelembaban, musim); Kondisi demografi (kepadatan, mobilitas, perilaku, adat istiadat, sosial ekonomi penduduk). Jenis nyamuk sebagai vektor penular penyakit juga ikut berpengaruh. Faktor agent yaitu sifat virus Dengue, yang hingga saat ini telah diketahui ada 4 jenis serotipe yaitu Dengue 1, 2, 3 dan 4. Penelitian terhadap epidemi Dengue di Nicaragua tahun 1998, menyimpulkan bahwa epidemiologi Dengue dapat berbeda tergantung pada daerah geografi dan serotipe virusnya..
Untuk menegakkan diagnosa infeksi virus Dengue diperlukan dua kriteria yaitu kriteria klinik dan kriteria laboratorium (WHO, 1997). Pengembangan tehnologi laboratorium untuk mendiagnosa infeksi virus Dengue terus berlanjut hingga sensitivitas dan spesifitasnya menjadi lebih bagus dengan waktu yang cepat pula. Ada 4 jenis pemeriksaan laboratorium yang digunakan yaitu : uji serologi, isolasi virus, deteksi antigen dan deteksi RNA/DNA menggunakan tehnik Polymerase Chain Reaction (PCR). (Mariyam, 1999).
Wabah Dengue yang baru terjadi di Bangladesh yang diidentifikasi dengan PCR ternyata Den-3 yang dominan. Sedangkan wabah di Salta Argentina pada tahun 1997 ditemukan bahwa serotipe Den-2 yang menyebabkan transmisinya. Sistem surveillance Dengue di Nicaragua pada bulan Juli hingga Desember 1998 mengambil sampel dari beberapa rumah sakit dan pusat kesehatan (Health Center) yang terdapat pada berbagai lokasi menghasilkan temuan 87% DF, 7% DHF, 3% DSS, 3% DSAS. Den-3 paling dominan, Den-2 paling sedikit. Disimpulkan bahwa epidemiologi Dengue dapat berbeda tergantung pada wilayah geografi dan serotipe virusnya.
Virus Dengue
Virus Dengue merupakan virus RNA untai tunggal, genus flavivirus, terdiri dari 4 serotipe yaitu Den-1, 2, 3 dan 4. Struktur antigen ke-4 serotipe ini sangat mirip satu dengan yang lain, namun antibodi terhadap masing-masing serotipe tidak dapat saling memberikan perlindungan silang.. Variasi genetik yang berbeda pada ke-4 serotipe ini tidak hanya menyangkut antar serotipe, tetapi juga didalam serotipe itu sendiri tergantung waktu dan daerah penyebarannya. Pada masing-masing segmen codon, variasi diantara serotipe dapat mencapai 2,6 ? 11,0 % pada tingkat nukleotida dan 1,3 ? 7,7 % untuk tingkat protein (Fu et al, 1992). Perbedaan urutan nukleotida ini ternyata menyebabkan variasi dalam sifat biologis dan antigenitasnya.
Virus Dengue yang genomnya mempunyai berat molekul 11 Kb tersusun dari protein struktural dan non-struktural. Protein struktural yang terdiri dari protein envelope (E), protein pre-membran (prM) dan protein core (C) merupakan 25% dari total protein, sedangkan protein non-struktural merupakan bagian yang terbesar (75%) terdiri dari NS-1 ? NS-5. Dalam merangsang pembentukan antibodi diantara protein struktural, urutan imunogenitas tertinggi adalah protein E, kemudian diikuti protein prM dan C. Sedangkan pada protein non-struktural yang paling berperan adalah protein NS-1.
Vektor
Virus Dengue ditularkan dari orang ke orang melalui gigitan nyamuk Aedes (Ae.) dari ssubgenus Stegomyia. Ae. aegypti merupakan vektor epidemi yang paling utama, namun spesies lain seperti Ae. albopictus, Ae. polynesiensis, anggota dari Ae. Scutellaris complex, dan Ae. (Finlaya) niveus juga dianggap sebagai vektor sekunder. Kecuali Ae. aegyti semuanya mempunyai daerah distribusi geografis sendiri-sendiri yang terbatas. Meskipun mereka merupakan host yang sangat baik untuk virus Dengue, biasanya mereka merupakan vektor epidemi yang kurang efisien dibanding Ae. aegypti. (WHO, 2000)
Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis infeksi virus Dengue pada manusia sangat bervariasi. Spektrum variasinya begitu luas, mulai dari asimtomatik, demam ringan yang tidak spesifik, Demam Dengue, Demam Berdarah Dengue, hingga yang paling berat yaitu Dengue Shock Syndrome (DSS), (Soegijanto, 2000). Diagnosis Demam Berdarah Dengue ditegakkan berdasarkan kriteria diagnosis menurut WHO tahun 1997, terdiri dari kriteria klinis dan laboratoris. Penggunaan kriteria ini dimaksudkan untuk mengurangi diagnosis yang berlebihan (overdiagnosis).
Kriteria Klinis
Demam tinggi mendadak, tanpa sebab jelas, berlangsung terus menerus selama 1-7 hari.
Terdapat manifestasi perdarahan yang ditandai dengan :
? Uji tourniquet positif
? Petekia, ekimosis, purpura
? Perdarahan mukosa, epistaksis, perdarahan gusi
? Hematemesis dan atau melena
? Hematuria
Pembesaran hati (hepatomegali).
Manifestasi syok/renjatan
Kriteria Laboratoris :
Trombositopeni (trombosit < 100.000/ml)
Hemokonsentrasi (kenaikan Ht > 20%)
Manifestasi klinis DBD sangat bervariasi, WHO (1997) membagi menjadi 4 derajat, yaitu :
Derajat I:
Demam disertai gejala-gejala umum yang tidak khas dan manifestasi perdarahan spontan satu-satunya adalah uji tourniquet positif.
Derajat II :
Gejala-gejala derajat I, disertai gejala-gejala perdarahan kulit spontan atau manifestasi perdarahan yang lebih berat.
Derajat III:
Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menyempit (< 20 mmHg), hipotensi, sianosis disekitar mulut, kulit dingin dan lembab, gelisah.
Derajat IV :
Syok berat (profound shock), nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak terukur.
Patogenesis dan Patofisiologi
Patogenesis DBD tidak sepenuhnya dipahami, namun terdapat dua perubahan patofisiologis yang menyolok, yaitu
Meningkatnya permeabilitas kapiler yang mengakibatkan bocornya plasma, hipovolemia dan terjadinya syok. Pada DBD terdapat kejadian unik yaitu terjadinya kebocoran plasma ke dalam rongga pleura dan rongga peritoneal. Kebocoran plasma terjadi singkat (24-48 jam).
Hemostasis abnormal yang disebabkan oleh vaskulopati, trombositopeni dan koagulopati, mendahului terjadinya manifestasi perdarahan.
Aktivasi sistem komplemen selalu dijumpai pada pasien DBD. Kadar C3 dan C5 rendah, sedangkan C3a serta C5a meningkat. Mekanisme aktivasi komplemen tersebut belum diketahui. Adanya kompleks imun telah dilaporkan pada DBD, namun demikian peran kompleks antigen-antibodi sebagai penyebab aktivasi komplemen pada DBD belum terbukti.
Selama ini diduga bahwa derajat keparahan penyakit DBD dibandingkan dengan DD dijelaskan dengan adanaya pemacuan dari multiplikasi virus di dalam makrofag oleh antibodi heterotipik sebagai akibat infesi Dengue sebelumnya. Namun demikian, terdapat bukti bahwa faktor virus serta respons imun cell-mediated terlibat juga dalam patogenesis DBD. (WHO, 2000).
Epidemiologi Molekuler
Infeksi virus Dengue telah menjadi masalah kesehatan yang serius pada banyak negara tropis dan subtropis, oleh karena peningkatan jumlah penderita, menyebarluasnya daerah yang terkena wabah dan manifestasi klinis berat yang merupakan keadaan darurat yaitu Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) danb Dengue Shock Syndrome (DSS).
Antara tahun 1975 dan 1995, DD/DBD terdeteksi keberadaannya di 102 negara di dari lima wilayah WHO yaitu : 20 negara di Afrika, 42 negara di Amerika, 7 negara di Asia Tenggara, 4 negara di Mediterania Timur dan 29 negara di Pasifik Barat. Seluruh wilayah tropis di dunia saat ini telah menjadi hiperendemis dengan ke-empat serotipe virus secara bersama-sama diwilayah Amerika, Asia Pasifik dan Afrika. Indonesia, Myanmar, Thailand masuk kategori A yaitu : KLB/wabah siklis) terulang pada jangka waktu antara 3 sampai 5 tahun. Menyebar sampai daerah pedesaan, sirkulasi serotipe virus beragam (WHO, 2000).
A. Daur hidup nyamuk Aedes aegypti
Ø Nyamuk betina meletakkan telurnya di dinding tempat penampungn air (TPA) atau barang-barang bekas yang memungkinkan terisi air hujan
Ø Perkembangan dari telur sampai menjadi nyamuk memerlukan waktu 7 – 10 hari
Ø Umur nyamuk betina dapat mencapai 1 – 3 bulan dan jantan 14 hari.
B. Ciri-ciri /sifat nyamuk Aedes aegypti
Ø Berwarna hitam dan belang-belang (loreng) putih pada seluruh tubuh
Ø Biasanya menggigit (menghisap ) darah pada siang hari (terutama pagi dan sore hari)
Ø Mampu terbang sampai 100 meter
C. Tempat-tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti
Ø Berkembang biak ditempat penampungan air (TPA) untuk keperluan sehari-hari dan barang-barang lain yang memungkinkan air tergenang misalnya :
v Bak mandi / WC, tempayan , drum.
v Tempat minum burung
v Vas bunga/ Pot tanaman air
v Kaleng bekas dan ban bekas, botol, tempurung kelapa, plastik dan lain-lain yang dibuang di sembarang tempat.
Ø Nyamuk Aedes aegypti tidak dapat berkembang biak di selokan/ got atau kolam yang airnya langsung berhubungan dengan tanah.
Cara penularan penyakit demam berdarah dengue (DBD)
1. Penyakit DBD ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti betina
2. nyamuk ini mendapatkan virus dengue sewaktu menggigit/menghihisap darah orng yang sakit DBD atau orang yang tidak sakit DBD tetapi didalam darahnya terdapat virus dengue.
3. Orang yang mengandung Virus dengue tetapi tidak sakit,dapat pergi kemana-mana dan menularkan Virus ini kepada orang lain di tempat yang ada nyamuk Aedes aegypti
4. Virus dengue yang terhisap akan berkembang biak dan menyebar keseluruh tubuh nyamuk, termasuk kelenjar liurnya.
5. Bila nyamuk tersebut menggigit / menghisap darah orang lain virus ini akan dipindahkan bersama air liur nyamuk.
6. Bila orang yang ditulari tidak memiliki kekebalan ( umumnya anak-anak ), maka virus ini akan menyerang sel pembeku darah dan merusak dinding pembuluh darah kecil (kapiler).Akibatnya terjadi pendarahan dan kekurangan cairan yang ada dalam pembuluh darah orang itu.
7. Nyamuk Aedes aegypti yang sudah mengandung virus dengeu, seumur hidupnya dapat menularkan kepada orang lain.
8. Dalam darah manusia, Virus dengue akan mati dengan sendirinya dalam waktu kurang dari 1 minggu.
II Cara-cara pencegahan DBD
Melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue (PSN DBD) dengan cara 3M :
1. Menguras tempat-tempat penampungan air sekurang-kurangnya 1 minggu sekali.
2. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air.
3. Mengubur atau menyingkirkan barang –barang bekas yang dapat menampung air hujan seperti kaleng bekas, plastik bekas dan lain-lain.
· Selain itu hal-hal lain yang perlu dilakukan untuk mencegah DBD antara lain :
a. Ganti air vas bunga, minuman burung dan tempat-tempat lainnya seminggu sekali
b. Perbaiki saluran talang air yang tidak lancar /rusak
c. tutup lubang-lubang pada potongan bambu, pohon dan lain lain misalnya dengan tanah.
d. bersihkan/ keringkan tempat-tempat yang dapat menampung air seperti Pelepah pisang atau tanaman lainnya termasuk tempat –tempat lain yang dapat menampung air hujan di pekarangan,kebun, pemakaman,rumah-rumah kosong dan lain-lain
e. Lakukan larvasiding yaitu membubuhkan bubuk pembunuh jentik (abate atau altosid)ditepat-tempat yang sulit dikuras atau yang sulit air.
f. Peliharalah Ikan pemakan jentik nyamuk
g. pencahayaan dan ventilasi memadai
h. pasang kawat kasa di rumah
i. jangan biasakan menggantung pakaian dalam rumah
j. tidur menggunakan kelambu
k. Gunakan obat nyamuk (bakar, gosok ) dan lain-lain untuk mencegah gigitan nyamuk
· Waspada terhadap penularan DBD
1. Bila musim hujan biasanya penyakit DBD sering muncul karena banyak benda-benda di luar rumah tang terisi air hujan dan dapat menjadikan tempet berkembang biak nyamuk Aedes aegypti
2. bila ditemukan jentik Aedes aegypti ditempat penampungan air
3. bila rumah kosong ( tidak dihuni ) seringkali merupakan tempat bersarangnya nyamuk Aedes aegypti
4. bila ada warga yang sakit DBD karena dapat ditularkan kepada orang lain melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti
· Melakukan kerja bakti secara berkala untuk menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sehingga mencegah berkembangbiaknya nyamuk aedes aegypti
· Melakukan penyemprotan rumah sesuai dengan ketentuan yaitu ditumukannya adanya sumber penularan / jentik disekitar rumah penderita ( Angka bebas Jentik < 95 % )
III. Gejala /tanda-tanda penyakit DBD
1. Mendadak panas tinggi selama 2- 7 hari , tampak lemah dan lesu.
2. Tampak bintik –bintik merah pada kulit, seperti bekas gigitan nyamuk disebabkan pecahnya pembuluh darah kapiler di kulit. Untuk membedakannya, kulit direnggangkan.bila bintik merah hilang bukan tanda DBD.
3. Kadang-kadang terjadi pendarahan dihidung (mimisan )
4. Mungkin terjadi muntah atau berak bercampur darah.
5. kadang-kadang nyeri ulu hati,karena terjadi pendarahan dilambung.
6. bila sudah parah, penderita gelisah,ujung tangan dan kaki dingin berkeringat. Bila tidak segera ditolong dapat meninggal dunia.
IV. Petunjuk Pertolongan Pertama Penderita DBD
1. Beri minum sebanyak-banyaknya dengan air yang sudah dimasak seperti air susu, the atau air minum lainnya. Dapat juga diberikan larutan oralit.
2. berikan kompres air hangat
3. Berikan obat penurun panas ( Parasetamol )
4. Segera dibawa ke dokter, bidan desa, poliklinik, puskesmas pembantu, puskesmas atau rumah sakit untuk memastikan penyakitnya dan mendapat pertolongan yang tepat.
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.
Interesting and informative. But will you write about this one more?
I really like your blog and i respect your work. I’ll be a frequent visitor.